Antisipasi Virus Corona di Tangsel

Banyak Pasien Covid-19 Isoman di Tangsel Meninggal, Epidemiolog Soroti Lemahnya Peran Pemkot

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Wahyu Aji
Ilustrasi isolasi mandiri di rumah.

Laporan Wartawan TribunJakarta.com Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG SELATAN - Bunyi sirine ambulans beberapa hari belakangan sering terdengar di wilayah Tangerang Selatan (Tangsel).

Pandemi Covid-19 benar-benar membuat mobil pengangkut orang sakit dan jenazah itu kerja lebih keras.

Bukan hanya membawa pasien dari rumah ke rumah sakit, tapi juga dari rumah sakit ke pemakaman dan dari rumah ke pemakaman.

Sampai saat ini, rata-rata 40 jenazah sehari dimakamkan di TPU khusus Covid-19 Tangsel, kawasan Jombang, Ciputat.

Seperti jalur ambulans di atas, mereka yang meninggal dunia karena Covid-19 bukan hanya dari rumah sakit setelah mendapat penanganan medis intensif.

Banyak penderita Covid-19 yang terpaksa isolasi mandiri (isoman) karena rumah sakit penuh, dan akhirnya mengalami perburukan hingga nyawanya tak tertolong.

Kondisi menyedihkan tersebut semestinya tak boleh terjadi. 

Pasien Covid-19 isoman harus tetap mendapat pemantauan dan penindakan jika diperlukan.

Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menyoroti peran pemerintah kota (Pemkot) yang seharusnya hadir sebagai pemantau dan pemenuh kebutuhan pasien isoman itu.

Baca juga: Ibas Kritik Pemerintah, Ketua DPC PDIP Tangsel Soroti Kinerja Anak SBY yang Jarang Datang ke DPR

Halaman
12