TRIBUNJAKARTA.COM - Pemain senior Ismed Sofyan sudah hampir dua dekade memperkuat Persija Jakarta.
Nyaris dua dekade berseragam Persija Jakarta, pemain senior Ismed Sofyan bicara tentang dua momen terbaiknya berseragam Macan Kemayoran.
Pemilik nomor punggung 14 ini telah berseragam Persija Jakarta sejak tahun 2002.
Kini, di usianya yang sudah menginjak kepala empat, Ismed Sofyan masih setia menjadi bagian dari tim Persija Jakarta.
Baca juga: Maman Abdurahman Ungkap Rahasia 10 Pemain Persija Jakarta Mampu Tahan Tuan Rumah Persib Bandung
Menjadikan pemain asal Aceh itu sebagai pemain tertua sekaligus terlama yang masih bermain di ibu kota.
Selama hampir dua dekade bergabung di Persija Jakarta, tentu sudah banyak momen, baik suka maupun duka yang dijalani Ismed Sofyan,
Namun Ismed Sofyan tetap memiliki cerita yang menurutnya paling manis diantara banyaknya kenangan dirinya di Persija Jakarta.
Untuk momen terbaik yang pertama, Ismed Sofyan menyebutkan hal itu ia dapatkan tiga tahun silam.
Tepatnya yakni ketika Persija sukses meraih gelar juara Liga 1 2018.
Kala itu, Persija berhasil menjadi yang terbaik dikancah tertinggi sepak bola Indonesia dengan mengumpulkan 62 poin.
Catatan poin Persija hanya terpaut satu angka dari PSM Makassar yang menempati posisi dua klasemen akhir Liga 1 2018.
Baca juga: The Jakmania Tak Sabar Bergoyang di Markas Baru Persija, Pengerjaan Stadion JIS Sudah 63 Persen
Baca juga: Mantan Kiper Pelapis Persija Jakarta Resmi Gabung ke Klub Atta Halilintar
Baca juga: Daftar Pemain di Liga 1 Jebolan Klub Serie A Liga Italia, Ada Palang Pintu Persija Jakarta
Ismed Sofyan pun menyebut gelar juara yang didapatkan Persija memanglah layak karena disepanjang musim semua pemain solid.
"Dari awal kompetisi kami sudah di papan atas, kalau tidak diperingkat kedua ya peringkat ketiga," kata Ismed dilansir dari laman resmi Persija, Jumat (23/7/2020).
"Saat itu kondisi tim sangat solid,"
"Kebersamaan antar pemain sangat terasa, tidak pernah berjarak," ujarnya.
Sementara itu, untuk momen terbaik kedua terjadi pada tahun 2005.
Berbeda dengan musim 2018, di 2005 Persija tak berhasil meraih gelar juara.
Bahkan dua kali menjalani laga final, tak satupun kemenangan bisa diraih saat itu.
Pertama dikalahkan Persipura dengan skor 2-3 (Final Divisi Utama) dan kedua tumbang dari Arema FC dengan skor 3-4 (Final Piala Indonesia).
Namun kekalahan yang diterima justru membuat Persija semakin kompak.
Itulah mengapa Ismed menyebut tahun 2005 menjadi salah satu momen terbaiknya.
"Sebenarnya itu musim yang pahit karena kami punya kans juara di dua kompetisi yang finalnya dimainkan di Jakarta, namun sayang gagal juara," ujar Ismed.
"Suasana tim saat itu sangat nyaman, baik di dalam maupun di luar lapangan,"
"Meski gagal, setelah itu kami belajar semakin kompak sebagai sebuah tim," tuturnya. (PERSIJA.ID/BOLASPORT)