Sisi Lain Metropolitan

Bagi Warga Muara Angke, Banjir Rob Bukan Bencana Lagi, Tapi Rutinitas Harian

Banjir rob yang kerap melanda kawasan pesisir Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, bukan lagi dianggap sebagai bencana oleh sebagian warga.

Tayang: | Diperbarui:

TRIBUNJAKARTA.COM, PENJARINGAN - Banjir rob yang kerap melanda kawasan pesisir Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, bukan lagi dianggap sebagai bencana oleh sebagian warga setempat.

Genangan air laut yang datang silih berganti justru telah menjadi bagian dari rutinitas yang harus dijalani setiap hari.

Kondisi itu dirasakan langsung oleh Elisa Febriana Romilah (58), warga Muara Angke yang telah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan banjir rob.

Menurut Elisa, frekuensi banjir yang terjadi di lingkungannya justru semakin sering dibandingkan beberapa tahun lalu.

"Dulu seminggu tiga kali. Kalau sekarang hampir tiap hari," kata Elisa kepada TribunJakarta.com, Kamis (11/6/2026).

Ia mengatakan, waktu datangnya banjir tidak dapat diprediksi.

Air laut bisa masuk ke permukiman pada pagi, siang, sore, maupun malam hari.

Karena sudah terbiasa, warga setempat kini lebih banyak menyesuaikan aktivitas dengan kondisi pasang surut air dibandingkan menghindarinya.

Elisa menuturkan, sebagian besar warga di sekitar tempat tinggalnya bekerja sebagai nelayan dan pengupas kerang.

Saat air laut pasang dan menggenangi jalan maupun area permukiman, aktivitas tetap berjalan meski dengan berbagai keterbatasan.

"Kalau orang-orang sini aktivitasnya ya tetap kerja. Yang punya bos perahu ambil kerang di laut, nanti direbus dan dikupas," ujarnya.

Sementara bagi dirinya yang sudah tidak lagi seaktif dulu karena faktor usia dan kondisi kesehatan, banjir membuat mobilitas menjadi semakin terbatas.

Ketika genangan meninggi, ia memilih tetap berada di dalam rumah dan menunggu air surut sebelum keluar.

Menurut Elisa, kondisi tersebut sudah menjadi kebiasaan yang harus diterima warga pesisir.

Ia bahkan mengaku pernah mengalami banjir yang jauh lebih parah ketika masih tinggal di rumah kontrakan di kawasan Muara Angke.

Pada 2021, air sempat masuk hingga setinggi dada orang dewasa dan membuat aktivitas warga lumpuh selama dua hari dua malam.

"Itu sampai enggak bisa tidur dua hari dua malam," katanya.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, warga tetap berusaha menjalani kehidupan seperti biasa.

Sebagian mencari nafkah dengan mengupas kerang, sebagian lainnya melaut untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Banjir rob yang datang hampir setiap hari tidak lagi menghentikan aktivitas mereka, melainkan menjadi kondisi yang harus dihadapi dan disiasati.

Elisa mengakui situasi saat ini sebenarnya lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu karena sejumlah jalan telah ditinggikan dan beberapa area sudah mengalami penataan.

Meski begitu, genangan masih tetap muncul terutama di kawasan yang berada paling dekat dengan laut.

Ia berharap pemerintah dapat lebih memperhatikan kondisi masyarakat pesisir, terutama warga dengan keterbatasan ekonomi yang hidup di wilayah rawan banjir rob.

Menurut Elisa, bantuan dan program sosial seharusnya diberikan berdasarkan kondisi riil yang dialami warga di lapangan.

"Buat kami yang tinggal di sini, banjir itu sudah biasa. Mau enggak mau ya harus dijalani," ujarnya.

Kondisi yang dialami Elisa juga menggambarkan kehidupan sebagian warga RW 022 Pluit yang berada di kawasan pesisir Muara Angke.

Ketua RW 022 Pluit, Bani Sadar, mengatakan wilayahnya dihuni sekitar 1.800 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 12 RT.

Menurut Bani, sebagian besar warga di kawasan tersebut hidup dari sektor perikanan, baik sebagai nelayan tangkap, nelayan pemasaran hasil laut, maupun pengelola hasil tangkapan.

"Kalau masuk ke wilayah sini ada tulisan 'Anda memasuki pemukiman nelayan'. Memang mayoritas aktivitas ekonomi warga bertumpu pada sektor perikanan," kata Bani.

Meski demikian, tidak semua warga bekerja sebagai nelayan. Berbagai profesi lain tumbuh untuk mendukung kebutuhan masyarakat pesisir, mulai dari pedagang, pemilik warung hingga penyedia jasa.

Bani menuturkan banjir rob sebenarnya bukan fenomena baru bagi warga Muara Angke. Genangan air laut sudah dikenal warga sejak dekade 1980-an.

Frekuensi banjir yang terus berulang selama bertahun-tahun membuat masyarakat perlahan beradaptasi dengan kondisi tersebut.

"Bisa karena biasa. Karena seringnya terjadi banjir di wilayah RW 22, akhirnya warga terbiasa menghadapi fenomena banjir tadi," ujarnya.

Menurut dia, banjir rob bahkan ikut mengubah karakter permukiman warga.

Banyak rumah dibangun dengan pondasi setinggi 80 sentimeter hingga lebih dari satu meter untuk menghindari genangan. Sebagian warga juga membangun rumah panggung atau rumah bertingkat sebagai bentuk adaptasi terhadap ancaman rob.

"Kalau lihat rumah-rumah warga sekarang, pondasinya tinggi. Itu mencerminkan perubahan yang dilakukan warga karena kondisi banjir yang terus terjadi," katanya.

Selain mengubah bentuk rumah, warga juga mulai memahami pola kedatangan banjir berdasarkan musim.

Saat musim timur, air pasang biasanya datang pada pagi hingga siang hari. Sementara pada musim barat, rob lebih sering datang pada malam hari ketika sebagian besar warga sedang beristirahat.

Kondisi tersebut membuat warga harus selalu waspada dan menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan siklus pasang surut air laut.

Bani menyebut salah satu peristiwa rob paling parah yang pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir berlangsung pada Desember 2024 hingga Januari 2025.

Saat itu, air laut masuk ke permukiman menjelang subuh ketika warga sedang terlelap tidur.

"Banyak surat-surat berharga, kasur dan barang-barang warga yang terdampak. Untungnya tidak ada korban jiwa," ujarnya.

Namun kondisi tersebut mulai berangsur membaik setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun tanggul mitigasi banjir di sejumlah titik kawasan pesisir Muara Angke pada 2025.

Menurut Bani, sebelum pembangunan tanggul, hampir seluruh wilayah RW 022 terdampak banjir rob. Kini sekitar 80 persen wilayah sudah lebih terlindungi dari genangan air laut.

Meski demikian, masih ada sekitar 20 persen wilayah yang tetap terdampak rob ketika air laut pasang dengan ketinggian tertentu.

Karena itu, ia berharap pembangunan pengendalian banjir di kawasan pesisir dapat terus dilanjutkan agar seluruh wilayah permukiman warga terbebas dari ancaman rob.

"Kalau wilayah RW 22 tidak aman dari banjir, dampaknya bukan hanya untuk Muara Angke tetapi juga kawasan sekitarnya," kata Bani.

Berita Lainnya

Baca juga: Dukung Atlet, KBRI Tunis Sambut Timnas Atletik Paralimpik Indonesia di Bandara Carthage 

Baca juga: RUMOR Transfer Panas: Niat Persija Gaet Rekan Peralta Pupus, Jalan Terjal Persib Rekrut Bek Como

Baca juga: Viral Pria Curi Map Dokumen Milik Warga yang Lagi Tidur di Grogol, Pelaku Ditangkap

Baca berita TribunJakarta.com lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved