Dari Cikarang ke Jerman, Industri Manufaktur RI Tembus Eropa

Pemerintah juga mendorong penguatan ekosistem industri besi dan baja nasional agar semakin tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Tayang:
Editor: Wahyu Septiana
HO/Istimewa
EKSPOR KE EROPA - Pelepasan ekspor perdana sebanyak 20 ton produk manufaktur dilakukan di kawasan GIIC Deltamas, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada 28 April 2026. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Industri manufaktur Indonesia kembali mencatatkan langkah penting di pasar internasional.

Dari kawasan industri di Cikarang, ekspor perdana ke Jerman menjadi penanda awal ekspansi ke pasar Eropa.

Ekspor Perdana ke Eropa

Pelepasan ekspor perdana sebanyak 20 ton produk manufaktur dilakukan di kawasan GIIC Deltamas, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada 28 April 2026.

Pengiriman ini menjadi tonggak awal bagi industri dalam negeri untuk menembus pasar Eropa, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kinerja ekspor nasional.

Direktur Utama PT Stainless Prima Pipe (SPP), Mustika Ali menyebut, momentum ini mencerminkan semakin terbukanya peluang bagi produk bernilai tambah asal Indonesia untuk bersaing di pasar global.

“Ekspor perdana ini merupakan momentum penting bagi kami untuk membuktikan bahwa produk manufaktur Indonesia mampu bersaing di pasar global. Kami optimistis dapat terus memperluas jangkauan pasar Internasional ke depan,” ujar Mustika Ali, Sabtu (2/5/2026).

Dukungan Pemerintah

Pelepasan ekspor turut dihadiri Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajari Puntodewi, yang memberikan apresiasi terhadap langkah ekspor tersebut.

Kementerian Perdagangan melalui Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional terus mendorong peningkatan ekspor dengan berbagai upaya, mulai dari fasilitasi promosi melalui pameran dagang hingga business matching dengan perwakilan perdagangan di luar negeri.

Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan ekosistem industri besi dan baja nasional agar semakin tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan, khususnya untuk sektor industri makanan, minuman, dan farmasi.

Kapasitas dan Standar Produksi

Dari sisi produksi, industri ini memiliki kapasitas hingga 1.100 ton per tahun dan telah mengadopsi berbagai standar internasional seperti ASTM, 3A, dan EN 10357 untuk menjaga kualitas produk.

General Manager perusahaan, Edi Tandiono, menyebut standar tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan produk mampu memenuhi kebutuhan pasar global yang semakin kompetitif.

Produk yang dihasilkan digunakan untuk berbagai sektor industri, mulai dari makanan dan minuman, farmasi, hingga energi, dengan mengedepankan kualitas, presisi, dan daya tahan.

Selain seremoni pelepasan ekspor, kegiatan juga diisi dengan pemaparan profil perusahaan dan kunjungan ke fasilitas produksi guna memperlihatkan proses manufaktur secara langsung.

Ke depan, ekspansi pasar ke kawasan Eropa dan negara lainnya menjadi target utama sebagai bagian dari strategi pertumbuhan berkelanjutan.

Berita Lainnya

Baca juga: Hilirisasi Tekan Impor dan Dorong Geliat Manufaktur Nasional

Baca juga: Pertumbuhan Manufaktur Indonesia Terus Tumbuh Tahun Ini, GGRP Dapat Peringkat Pefindo

Baca juga: May Day di Jakarta Kondusif, Komrad Pancasila Apresiasi Langkah Aparat Antisipasi Perusuh 

Baca berita TribunJakarta.com lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved