Suka Duka Kasiman, Pengemudi Anak-Anak Difabel di SLB Santi Rama yang Harus Ekstra Sabar
Ia pun melanjutkan tak mudah untuk membuat mereka tenang lantaran anak-anak kecil tersebut kerapkali sangat antusias dan enerjik di dalam mobil.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Erik Sinaga
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, CILANDAK - Karsiman, sudah belasan tahun bekerja menjadi sopir mengantarkan anak-anak difabel khususnya anak penyandang tuna rungu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Santi Rama, Fatmawati, Jakarta Selatan.
Baca: Jimly Asshiddiqie Sebut Calon kepala Daerah Tersangka Sebelum Pilkada Bermula dari Kasus Ahok
Dia acap kali mengantarkan mereka menuju ke berbagai tempat ke luar sekolah. Bagi Karsiman, menjadi pengemudi anak-anak difabel selama belasan tahun pun memiliki suka dukanya.
Kesabaran Karsiman kerap diuji kala ia mengantarkan anak-anak difabel setara Taman Kanak-kanak (TK) berkarya wisata.
"Kalau saya ekstra sabar di dalam mobil. Malahan saya sering jadi mainannya anak-anak. Kadang lagi nyetir suka minta gendong ke pundak bahkan sampai ke kepala," kisah Karsiman pada TribunJakarta.com, Kamis (8/3/2018).
Ia pun melanjutkan tak mudah untuk membuat mereka tenang lantaran anak-anak kecil tersebut kerapkali sangat antusias dan enerjik sewaktu di dalam mobil.
"Kalau dia kenceng kita pelan malah makin menjadi-jadi enggak bisa diem gitu. Jadi kita ingetinnya harus terus menerus biar mereka tenang, guru di dalam mobil juga bantuin," beber Karsiman.
Baca: Pep Sebut Manchester City Kalah Karena Tidak Bermain Sungguh-sungguh
Kendati terkadang Karsiman acapkali kesulitan menghadapi keceriaan anak-anak yang menggebu-gebu, ia tetap menyayanginya.
Bahkan ia sempat teringat dengan siswa difabel di Santi Rama yang tergolong cerdas di antara yang lain.
"Tak mudah anak tuna rungu yang cepat paham dan mengerti apa yang diajarkan. Satu orang dulu namanya Mega sekarang udah lulus. Dia cepat tanggap dan paham, terkadang ada humorisnya," ujar Karsiman terkekeh.
Di Santi Rama ini merupakan Sekolah Luar Biasa (SLB) dari TK hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) yang menampung khusus anak-anak penyandang grade B. Yaitu, anak-anak yang mengalami gangguan atau kemampuan mendengar.
Meski keterbatasan yang mereka miliki, lanjut Karsiman, tak sedikit siswa siswi yang bersekolah hingga perguruan tinggi. Mereka bahkan hingga bekerja di bidang profesionalisme.
Baca: Takluk di Kandang, Manchester City Tetap Lolos ke Perempat Final