Info Mudik 2018

Wajib Santap Menu Brekat Dalem Ayam Pakai Daun Kelapa di Kampung Emas, Gunung Kidul

Cara menyantapnya menggunakan anyaman daun kelapa, sembari menikmati pemandangan hamparan sawah di gubug atau limasan di pinggir sawah.

Wajib Santap Menu Brekat Dalem Ayam Pakai Daun Kelapa di Kampung Emas, Gunung Kidul
Istimewa Tourde Java Tribun
Makan Ayam di Kampung Emas. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Berkembangnya industri pariwisata di Kabupaten Gunungkidul membuat warganya terus berinovasi agar dapat terus memikat para wisatawan, satu diantaranya adalah Kampung Emas yang menawarkan wisata kuliner ini berada di padukuhan Plumbungan, desa Putat, kecamatan Patuk, tepatnya di sebelah selatan Gunung Api Purba Nglanggeran.

Di tempat ini menawarkan sajian berupa menu Brekat Dalem yang di masak oleh ibu-ibu sekitarnya, Brekat Dalem berisi ayam ingkung atau ayam kampung utuh, beserta oseng tempe, Gudangan atau Urapan, sambel, peyek, sayur lombok ijo, masakan tersebut disajikan sama seperti untuk prosesi kenduri yang ada di masyarakat Jawa.

Baca: Belanja Cinderamata di Pasar Beringharjo, Tak Hanya Batik Loh

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Emas Plumbungan Andri Purwanto mengatakan masakan tersebut membutuhkan waktu selama 3 jam, jadi masyarakat tidak dapat langsung memesan, tetapi minimal pemesanan 6 jam sebelumnya.

"Jika akhir pekan paling tidak sehari sebelumnya sudah memesan, kita memasak menggunakan cara tradisional, yaitu menggunakan kayu bakar dan ayam masih segar, untuk akhir pekan juga harus memesan tempat karena kami terbatas untuk tempat," tuturnya.

Selanjutnya ia mengatakan untuk menghasilkan daging ayam yang gurih, ayam dimasak dengan beberapa bumbu seperti bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit, dan santan. Dalam proses masaknya dibutuhkan waktu selama 3 jam, ayam direbus beserta bumbu hingga meresap ke dalam daging.

Cara menyantapnya pun dengan cara unik yaitu tidak menggunakan piring tetapi menggunakan anyaman daun kelapa, sembari menyantap makanan pengunjung dapat menikmati pemandangan hamparan sawah di gubug atau limasan di pinggir sawah.

Baca: Jelang Lebaran, Jalur Selatan Buka Total

Tidak hanya makanannya saja yang khas tetapi kampung emas juga menyajikan minuman tradisional berupa wedang seruni yang dibuat dari jahe dan daun serai.

"Yang membuat wisata kuliner ini dapat memberdayakan masyarakat sekitar," tuturnya.

Satu diantara pengelola kampung Mas Gunawan mengatakan dalam pengembangan objek wisata ini telah dapat membantu ekonomi warga.

"Memang kita tidak ready stock jadi harus memesan paling tidak 6 jam sebelumnya, kalau pas ramai lebih baik memesan 1 hari sebelumnya karena ayam kampung langsung kita potong dan kita masak, dengan wisata ini dapat membantu perekonomian warga mulai dari peternak ayam kampung hingga pemuda-pemuda yang membantu menyajikan," katanya.

Selanjutnya ia mengatakan untuk bulan Ramadan mulai buka menjelang adzan maghrib hingga pukul 20.00. Sementara itu satu diantara pengunjung Dina warga Gunungkidul mengatakan untuk tempatnya sudah bagus suasana pedesaannya juga dirasa sangat kental.

"Jadi tenang buat acara kumpul, pemandangannya hijau bikin seger," tuturnya.

Baca: Cek! 6 Zodiak Ini Dikenal Mudah Bersyukur, Kamu Diantaranya?

Namun masih ada beberapa catatan untuk berbenah pengelola menurutnya perlu penataan tempat kembali , untuk sekarang masih masyaeakat masih kurang mengenal kampung emas, lalu pembagian tempat ketika ada tamu datang juga belum tertata rapih.

"Jadi kalau pelanggan mau pesen atau bayar dan lain sebagainya jelas mau kemananya," tutupnya.(CR1)

Editor: Ilusi Insiroh
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help