Ini Pengakuan Sopir Truk yang Kerap Kena Pungli di Bantar Gebang

Salah satu pengendara truk yang enggan disebutkan namanya mengaku, pungli di Jalan Raya Cipendawa benar terjadi.

TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Lokasi loading truk di Jalan Raya Cipendawa Kecamatan Bantar Gebang yang kerap dikenakan pungutan liar. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, BANTAR GEBANG - Baru-baru ini Polsek Bantar Gebang meringkus empat orang yang kerap melakukan praktik pungutan liar (pungli) terhadap pengendara truk yang melintas di Jalan Raya Cipendawa, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi.

Kapolsek Bentar Gebang bersama jajarannya sempat menyamar menjadi kernet truk untuk membuktikan laporan yang datang dari sejumlah pengusahan yang merasa resah dengan keberadaan praktik pungli tersebut.

Salah satu pengendara truk yang enggan disebutkan namanya mengaku, pungli di Jalan Raya Cipendawa benar terjadi.

Mereka mengaku mengatasnamakan organisasi kepemudaan di wilayah setempat.

"Ya emang ada bang, sepanjang jalan ini aja mau masuk ke area pabrik," kata salah satu pengendara truk, Selasa (25/9/2018).

Titik pungli, kata dia, pertama di ujung jalan ketika memasuki jalur menuju pabrik.

Lokasi loading truk di Jalan Raya Cipendawa Kecamatan Bantar Gebang yang kerap dikenakan pungutan liar.
Lokasi loading truk di Jalan Raya Cipendawa Kecamatan Bantar Gebang yang kerap dikenakan pungutan liar. (TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar)

Lalu, tepat dekat lokasi loading kendaraan.

Ketiga ketika hendak pergi usai mengantar kebutuhan logistik perusahaan.

"Pokoknya pas kita masuk itu udah kena Rp 5 ribu, kedua itu bilangnya uang parkir kena Rp 2 ribu, terakhir pas kita mau jalan kena Rp 10 ribu," ungkapnya.

Menurut dia, aksi pungli tersebut terjadi hampir setiap hari, padahal untuk biaya operasional selama diperjalanan setiap sopir truk belum tentu memegang uang untuk biaya-biaya retribusi liar tersebut.

"Padahal kita di jalan belum tentu pegang duit, kita kan mana tau ada retribusi-retribusi kaya gitu, enggak nyiapin duit lebih, tapi dia orang mana peduli," katanya.

Setiap sopir truk merasa takut jika mereka tidak memberikan retribusi liar tersebut, sebab banyak sopir truk yang memilih tidak mau ambil ribut.

"Jujur kita mah enggak mau ambil ribut, masalahnya juga kita nyari duit disini, kalau ada apa-apa kan bisa ganggu kerjaan saya ya mau gak mau kita kasi," imbuhnya.

Jika dihitung-hitung untuk sekali perjalan sopir truk bisa habis Rp 17 ribu untuk biaya retribusi liar.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved