Lion Air JT610 Jatuh
Lion Air PK-LQP Jatuh, Pengamat Penerbangan 85 Persen Kecelakaan Pesawat Akibat Human Error
Pengamat penerbangan di Indonesia, Ilham Habibie mengemukakan 85 persen kecelakaan pesawat akibat human error.
Penulis: Kurniawati Hasjanah | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
TRIBUNJAKARTA.COM - Pengamat penerbangan di Indonesia, Ilham Habibie bongkar 85 persen kecelakaan pesawat akibat human error seiring dengan peristiwa Lion Air PK-LQP jatuh.
Awalnya pesawat type B737-8 Max dengan Nomor Penerbangan JT 610 milik operator Lion Air yang terbang dari Bandar Udara Soekarno Hatta Banten menuju Bandara Udara Depati Amir di Pangkalpinang dilaporkan telah hilang kontak pada 29 Oktober 2018 pada sekitar pukul 06.33 WIB.
Berdasarkan informasi yang diterima TribunJakarta.com, pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP dilaporkan terakhir tertangkap radar pada koordinat 05 46.15 S - 107 07.16 E.
Pesawat ini berangkat pada pukul 06.10 WIB dan sesuai jadwal akan tiba di Pangkalpinang pada Pukul 07.10 WIB.
Pesawat sempat meminta return to base sebelum akhirnya hilang dari radar.
Pesawat Lion Air JT 610 tersebut membawa 178 penumpang dewasa, 1 penumpang anak-anak dan 2 bayi dengan 2 Pilot dan 5 FA sampai saat ini telah hilang kontak selama kurang lebih 3 jam.
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengatakan, Lion Air PK-LQP merupakan pesawat relatif baru.
"Pesawat Lion Air JT610 memiliki 800 jam terbang, jadi relatif masih baru," tuturnya.
Soerjanto mengatakan, Lion Air JT610 terakhir terdeteksi radar di ketinggian 2500 - 3000 kaki.
"Karena pesawat masih baru, kita harapkan blackbox ditemukan segera dan bisa menemukan penyebabnya sesegara mungkin," ungkapnya.
Ia menegaskan, kala peristiwa terjadi cuaca sedang cerah sehingga tidak ada masalah.
Hingga saat ini, proses evakuasi terhadap korban dan badan pesawat Lion Air PK-LQP di perairan Tanjung Karawang terus dilanjutkan.
Proses evakuasi melibatkan 858 personel, terdiri dari Badan SAR Nasional (Basarnas) 201 orang, TNI Angkatan Darat (AD) 40 orang, TNI Angkatan Laut (AL) 456 orang, TNI Angkatan Udara (AU) 15 orang, Polri 58 orang, Petugas Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) 30 orang.
Ditambah, Bea Cukai 18 orang, Palang Merah Indonesia (PMI) 30 orang serta Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla) 10 orang.
"Rencana operasi melalui pencarian udara menggunakan lima helicopter, yaitu satu unit HR-1519, satu unit HR-1301, satu unit NBO-105, satu unit NBO-105 Polri dan satu unit Dauphin Polri," ujar Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro dalam keterangan resminya, Jumat (2/11/2018).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/pesawat-lion-air_20180810_211005.jpg)