Peneliti LSI Denny JA Sebut TKN Jokowi-Maruf Belum Masif Kampanyekan Program Pemerintah
LSI Denny JA menggunakan metode multistage random sampling, dengan total 1.200 responden, yang dilakukan pada 10 hingga 19 November 2018
Penulis: Nawir Arsyad Akbar | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nawir Arsyad Akbar
TRIBUNJAKARTA.COM, PULOGADUNG - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA melansir hasil penelitiannya terbaru, yang menyatakan bahwa lebih dari 90 persen responden menyatakan menyukai program dari pemerintahan era Presiden Joko Widodo.
Survei tersebut disampaikan oleh peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar di Graha Dua Rajawali, Rawamangun, Pulogadung, Jakarta Timur.
"Semua program Jokowi dikenal atau diketahui di atas 50 persen pemilih. Namun, dua bulan masa kampanye, program-program tersebut belum maksimal dikampanyekan," ujar Rully Akbar, Kamis (6/12/2018).
Berikut 6 program pemerintahan Presiden Jokowi yang dikenal masyarakat, berdasarkan survei LSI Denny JA :
1. Kartu Indonesia Sehat (KIS) : 90,0 persen
2. Kartu Indonesia Pintar (KIP) : 87,6 persen
3. Beras Sejahtera (Rastra) : 69,0 persen
4. Program Keluarga Harapan (PKH) : 66,1 persen
5. Pembangunan Infrastruktur : 59,4 persen
6. Pembagian Sertifikat Tanah : 55,3 persen
"Sebagai petahana, Jokowi tentunya diuntungkan dengan berbagai program yang sudah berjalan selama empat tahun kepemimpinannya," ujar Rully Akbar.
• Penerima KJP Borong Telur saat Acara Pangan Murah di Ciganjur
• Tanggapi Polemik Ceramah Habib Bahar, Deddy Corbuzier Singgung Atta Halilintar dan Ria Ricis
Dalam proses surveinya, LSI Denny JA menggunakan metode multistage random sampling, dengan total 1.200 responden, yang dilakukan pada 10 hingga 19 November 2018.
LSI Denny JA memakai teknik wawancara tatap muka responden dan menggunakan kuisoner, dengan margin of error sebesar kurang lebih 2,9 persen. Dilengkapi FGD, analisis media, dan indepth Interview.
Namun menurut Rully Akbar, tim kampanye nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin belum maksimal mengkampanyekan keenam program tersebut, guna meningkatkan elektabilitas mereka.
"Program-program ini belum dikampanyekan secara masif sebagai bagian dari succes story Jokowi, dalam dua bulan masa kampanye. Petahana dan tim masih terlihat ikut terlibat dalam percakapan yang penuh sensasi," ujar Rully Akbar.