Pembangunan Tol Kunciran-Cengkareng Bikin Warga Khawatir, Pembebasan Lahan Dihargai Murah

Bahkan, kegelisahannya itu juga merembet ke suaminya yang kini hingga mengalami gangguan jiwa ringan.

Pembangunan Tol Kunciran-Cengkareng Bikin Warga Khawatir, Pembebasan Lahan Dihargai Murah
TRIBUNJAKARTA.COM/EGA ALFREDA
Lokasi Jalan Kampung Geger, Kecamatan Benda, Kota Tangerang yang terkena pembebasan lahan pembangunan Tol Kunciran-Cengkareng, Kota Tangerang, Jumat (11/1/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, BENDA - Puluhan kepala keluarga di Jalan Kampung Geger, Kecamatan Benda dibuat gelisah dengan isu pembebasan lahan dari pembangunan Tol Kunciran-Cengkareng.

Pembangunan jalan Tol Kunciran-Cengkareng merupakan bagian dari Jakarta Outer Ring Road (JORR) 2 dan dianggap warga dapat merugikan warga di Kecamatan Benda.

Ruas tol tersebut direncanakan akan diperpanjang dari Serpong, Kunciran, hingga Batuceper. 

Tol baru tersebut juga akan menjadi akses tol utama warga Tangerang menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Yanti (69), warga setempat mengaku mendapat informasi pembangunan ruas jalan tol itu sejak beberapa tahun lalu.

Menurutnya, warga Benda pun telah mendapat sosialisasi mengenai ganti rugi pembebasan lahan Tol Kunciran-Cengkareng.

Namun Yanti merasa resah lantaran ia tak mengerti soal pengurusan ganti rugi pembebasan lahan rumah yang hanya dihargai Rp 2,6 juta per meternya.

"Kalau harga segitu, rasanya kurang untuk membangun rumah lagi. Saya jadi bingung. Apa lagi ngurusnya saya juga tidak paham," keluh Yanti di kediamannya, Jumat (11/1/2019).

Bahkan, kegelisahannya itu juga merembet ke suaminya yang kini hingga mengalami gangguan jiwa ringan.

Juwandi yang juga warga setempat pun merasakan hal yang sama lantaran rumahnya berdekatan dengan pembangunan proyek tol Kunciran-Cengkareng.

Parahnya lagi, karena rumahnya yang sangat berdekatan dengan pembangunan tersebut kerap kali terpapar getaran dan debu dari alat berat.

Hingga menyebabkan rumahnya mengalami rusak dan retak-retak yang cukup parah.

"Rumah saya jadi retak temboknya karena proyek itu kan ada paku bumi dan getaran besar banget sampe retak-retak. Kalau siang itu debu kemana-mana," ujar Juwandi.

Meski demikian, beberapa warga telah menyepakati ganti rugi pembebasan lahan.

Namun, kata Juwandi, masih banyak juga kepala keluarga yang bertahan berharap nilai ganti rugi pembebasan lahan dapat dinaikkan.

"Idealnya Rp 5 juta sampai Rp 6 juta. Lahan kosong di depan sana dibayar Rp 7 meter per meter persegi. Lah kami hanya dihargai Rp 2,6 juta per meter persegi," beber Yandi.

Kuasa hukum warga, Ewi mengatakan masalah itu telah disampaikan ke Mahkamah Agung (MA) dan masih menunggu kepastian.

Ia menuturkan, saat ini warga hanya bisa menunggu kepastian hukum yang berlaku lantaran, musyawarah harga tanah sudah tidak berlaku.

"Yang menjadi pegangan mereka saat ini tidak ada lagi musyawarah terkait harga tanah yang ada bentuk ganti kerugian," terang Ewi.

Menurut dia, jika gugatan warga dikabulkan MA, warga akan menerima biaya ganti rugi seperti yang dikehendaki. 

Namun, bilamana MA menolak, mau tak mau warga menerima ganti rugi yang ada dan meninggalkan rumah mereka secara berat hati.

Sementara itu, mendekati waktu maghrib, beberapa petugas berseragam serba putih mendatangi lokasi menggunakan mobil berpelat merah.

Mereka mendatangi warga dan mendengarkan keluhan warga Jalan Kampung Geger, Kecamatan Benda, Kota Tangerang.

Banyak warga mengatakan, mereka berasal dari kantor kelurahan dan Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Namun, mereka enggan angkat bicara terkait kedatangan mereka.

Penulis: Ega Alfreda
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved