Cerita Lurah Tentang Kasus DBD di Srengseng Sawah, dari Cerewet Hingga Beberkan Gaji Jumantik

Ia menyayangkan kurangnya kesadaran dari warga untuk membantu memberantas keberadaan sarang nyamuk.

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas
Lurah Srengseng Sawah, Tubagus Masruri pada Kamis (24/1/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, JAGAKARSA - Baru menatap awal tahun 2019, Lurah Srengseng Sawah, Tubagus Masruri langsung menerima laporan bahwa sudah ada empat warganya terjangkit penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Ia menyayangkan kurangnya kesadaran dari warga untuk membantu memberantas keberadaan sarang nyamuk.

"Di bulan Januari ini sudah 4 kasus yang saya terima terkait warga yang kena DBD. Gini ya, terkadang masyarakatnya ya mungkin warga kurang care sama kader jumantik," bebernya kepada TribunJakarta.com pada Kamis (24/1/2019) di kantor Lurah Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.

Selain kurangnya kepedulian dari warga di wilayahnya, lanjut Masruri, wilayah Srengseng Sawah masih dinaungi oleh banyak lahan hijau yang kosong.

Sehingga, pemicu banyaknya nyamuk turut disumbangkan dari sana.

"Di sini masih banyak lahan kosong, tapi lahan kosong itu punya orang lain dan pemiliknya itu enggak mau mengurus dibiarkan saja. Kemudian kita kecolongan dengan adanya sarang di talang air," lanjutnya.

Kondisi itu sebenarnya membuat Masruri jengah, ia turut terjun ke lapangan untuk sosialisasi kepada warga sekitar.

Masruri ingin warganya punya kesadaran sendiri untuk memulai memberantas sarang nyamuk.

Mengingat, wilayah Jagakarsa dan Pasar Minggu merupakan wilayah rawan penyakit DBD di Jakarta Selatan.

"Makanya saya cerewet karena saya kepingin ada inovasi dari warga. RT pun sebenarnya harus menaruh program untuk menangani DBD," ujarnya.

Ia pun telah mengerahkan semua jajaran petugas PPSU maupun warga untuk membuat Ovitrap (perangkap jentik nyamuk).

Masing-masing petugas PPSU diharuskan membuat 2 ovitrap yang diberikan kepada kelurahan sedangkan warga harus membuat 4 ovitrap di rumahnya.

"Ovitrap juga harus dibuat bagus ya akan sekaligus mempercantik ruangan atau halaman," bebernya.

Performa jumantik di lapangan pun turut diperhatikan agar kerja mereka benar-benar maksimal.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved