Pencegahan Penyakit DBD di Kota Bekasi Dinilai Kurang Maksimal
Periode Januari 2019, RSUD Bekasi mencatat ada 88 penderita DBD, angka itu meningkat signifikan bila dibanding total kasus sepanjang 2018.
Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Erlina Fury Santika
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar
TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI SELATAN - Fenomena peningkatan pasien penderita deman berdarah dengue (DBD) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi mengalami peningkatan yang cukup signifikan periode Januari 2019.
Kepala Bidang Perawatan RSUD Kota Bekasi Sudirman mengatakan, periode Januari 2019, pihaknya mencatat ada 88 kasus pasien yang menderita DBD. Angka itu meningkat signifikan bila dibanding total kasus sepanjang 2018.
"Untuk Januari ini ada 88 kasus, 55 kasus diantaranya diderita pasien dewasa, 33 sisanya diderita pasien anak-anak," kata Sudirman, Kamis, (24/1/2019).
Sedangkan pada periode sepanjang tahun Januari hingga Desember 2018, total kasus DBD yang ditangani RSUD Kota Bekasi sebanyak 54 kasus.
"Kalau dilihat dari November 2018 itu ada 2 kasus, lalu Desember ada 12 kasus, artinya Januari 2019 ini ada peningkatan yang cukup signifikan jumlah penderita DBD, jika dibandingkan dengan Januari 2018 lalu jumlah kasus DBD hanya 6 kasus," jelas dia.
Fenomena peningkatan jumlah penderita DBD kata Sudirman, terjadi disebab sejumlah faktor. Diantaranya program pencegahan DBD yang dinilai belum maksimal.
"Kami ini kan RSUD institusi yang sifatnya kuratif pencegahan, jadi kalau pencegahan itu difokuskan ke programnya Dinas Kesehatan," kata Sudirman.
"Kami tentu bisa menduga katakanlah menganalisa terjadi peningkatan kasus demam berdarah ini di lingkungan masyarakat itu program pencegahan deman berdarahnya masih belum menunjukan hasil yang belum baik dalam artian, usaha-usaha yang dilakukan katakanlah mencegah atau memberantas nyamuk penyebab deman berdarah ini masih belum maksimal," ujar Sudirman.
Selain itu kata dia, faktor lain yakni perunahan cuaca, pergantian musim dari kemarau ke musim hujan. Ditambah sanitasi lingkungan tempat tinggal yang masih belum bersih menjadi pemicu berkembang biaknya jentik nyamuk.
"Tentunya perubahan cuaca, dan pencegahannya kurang berhasil di lingkungan masyarakat, nyamuk ini kan bisa terbang di area 100 meter, jadi kalo ada pasien di satu lokasi mengidap demam berdarah, kemungkinan di situ ada nyamuk yang mengigit jadi tentu dia bisa mengigit masyarakat yang ada di lingkungan tersebut," jelas dia.
Dia menghimbau kepada masyarakat agar dapat menjaga kebersihan lingkungan seperti memberantas sarang nyamuk dengan membersihan selokan atau genangan air yang dapat menimbulkan sarang nyamuk.
"Saat ini sedang terjadi pergantian musim, dari musim kemarau ke musim hujan, sering menyebabkan genangan air, ketika hujan turun kemudian berhenti, lalu ada genangan air, nah itu yang bisa menyebabkan sarang atau tumbuhnya jentik nyamuk," ucap dia.
Dalam menyikapi melonjaknya kasus demam berdarah, RSUD Kota Bekasi memastikan pihaknya masih mampu melakukan penanganan secara baik.
"Sampai hari ini ruang rawat inap di kita masih bisa menampung, kedepan jika nanti terjadi lonjakan yang sangat drastis, tentu akan ada usaha luar biasa dengan menata ruang rawat inap agar bisa menampung pasien-pasien," jelas dia.