Komnas Perempuan: Ibu yang Terpaksa Sakiti Anak Sebenarnya Menyesal

Ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan dalam segala ranah membuat perempuan hanya dapat melampiaskan emosinya ke anak atau pembantu.

Penulis: Bima Putra | Editor: Erlina Fury Santika
Kompas.com/shutterstock
Ilustrasi kekerasan anak 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CAKUNG - Wakil Ketua Komnas Perempuan Budi Wahyuni mengatakan ibu yang menyakiti atau bahkan membunuh anaknya pasti menyesal karena mengakhiri hidup darah daging yang dia lahirkan.

Merujuk pengalamannya sebagai saksi ahli di persidangan dalam perkara ibu yang membunuh anaknya, Wahyuni menuturkan ibu yang membunuh anaknya tak punya pilihan sehingga berbuat nekat.

Dia mencontohkan satu kasus ibu di Bali yang membunuh tiga anaknya lalu mencoba bunuh diri karena tak kuat jadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) suaminya selama bertahan-tahun.

Menurutnya sang ibu mencoba bunuh diri bukan karena takut bertanggung jawab secara hukum, tapi memang ingin bunuh diri dan terpaksa mengajak anaknya karena takut hidup mereka terlantar setelah dia tiada.

"Pasti menyesal, enggak mungkin dia enggak menyesal. Tapi di saat dia melakukan itu sudah tidak ada lagi pilihan kecuali aku menyelamatkan anak-anakku dengan cara mengajak dia mati. Daripada saya meninggalkan anak-anakku dengan ketidakpastian," kata Wahyuni saat dihubungi di Jakarta Timur, Kamis (28/3/2019).

Wahyuni menjelaskan, kebanyakan kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan ibu dipicu karena sang ibu jadi korban KDRT dalam waktu lama sampai akhirnya tak dapat berpikir jernih.

Dia menyesalkan sikap orang terdekat korban yang menyelahkan sang ibu tanpa memposisikan diri sebagai korban KDRT yang berusaha mencari jalan keluar bagi dirinya dan anaknya.

"Orang yang yang tidak jadi korban KDRT saja bisa berpikir seperti itu. Nah dia tidak ada pilihan lagi, kalau dia masih punya pilihan pasti tidak akan membunuh anaknya," ujarnya.

Faktor Keluarga Jadi Pemicu Hercules Bersikap Emosional Hingga Pukul Wartawan

SMAN 82 Jakarta Kerap Dikunjungi Bintang NBA, Wakil Kepala Sekolah: Sekolah Lain Banyak yang Iri

KDRT yang terus dialami membuat seorang ibu yang dituntut dapat melakukan segala hal tapi dipandang rendah suaminya membuat sang ibu gelap mata.

Ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan dalam segala ranah membuat perempuan hanya dapat melampiaskan emosinya ke anak atau pembantu rumah tangga yang kuasanya lebih rendah dari dia.

"Kalau relasi antara dia dengan suami tertekan terus, tidak bisa menyampaikan dengan baik dan tidak bisa mencari solusi. Di tengah kebuntuannya, dari yang sederhana kan biasanya melakukan kekerasan dengan menampar, memukul, menghukum anak," tuturnya.

Di Jakarta Timur, kasus ibu membunuh anak yang teranyar terjadi pada Kamis (28/2/2019) di satu kontrakan RT 02/RW 09 Kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung.

Pelaku, Lisa (23) yang membunuh anaknya, SH (3) sendiri dinyatakan mengidap gangguan jiwa tanpa diketahui pasti sebabnya karena saat bermukim di wilayah RT 02 sudah berpisah dengan suami.

Warga hanya mengetahui bahwa Lisa yang kini dirawat di RS Sakit Jiwa Duren Sawit, Jakarta Timur itu mengidap penyakit yang membuat tubuhnya kurus kering layaknya hingga tulang berbalut kulit. 

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved