PKL dan Sopir Bajaj Beri Alasan Beragam Soal Mangkal di Trotoar
Trotoar di sejumlah titik di Jakarta Selatan tak lagi sepenuhnya menjadi milik pejalan kaki.
Penulis: Annas Furqon Hakim | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim
TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN LAMA - Trotoar di sejumlah titik di Jakarta Selatan tak lagi sepenuhnya menjadi milik pejalan kaki.
Pantauan TribunJakarta.com pada Selasa (11/6/2019), setidaknya terdapat dua titik di mana trotoar dikuasai pedagang kaki lima (PKL) dan bajaj.
Titik pertama adalah trotoar yang berada di depan Stasiun Kebayoran Lama.
Dan, titik selanjutnya terletak di Jalan Gandaria Tengah 1, Kramat Pela, atau di depan Pasar Mayestik.
Baik PKL maupun sopir bajaj ternyata punya alasan tersendiri untuk mangkal di trotoar.
Rahmat (38), pedagang mie ayam di depan Stasiun Kebayoran Lama mengatakan, dirinya tak tahu lagi harus berjualan di mana.
Selain itu, ia menyebut lokasi berjualannya saat ini sangat strategis untuk menarik pembeli.
"Pengennya sih nggak di sini, tapi belum disediakan tempat lain," katanya kepada TribunJakarta.com.
"Dibilang strategis ya strategis banget. Orang sebelum naik kereta kadang sarapan di sini. Yang lebih ramai sih pas jam pulang kerja," tambah dia.
• PKL dan Bajaj Penuhi Sejumlah Trotoar di Jakarta Selatan
• Dua Bajaj Terkena Razia Parkir Liar di Jalan KS Tubun Raya Jakarta Barat
Hal senada juga diungkapkan Salam (53), sopir bajaj di depan Pasar Mayestik.
Menurutnya, tidak ada lahan parkir yang lebih murah ketimbang trotoar yang ia gunakan.
"Parkir di dalam (pasar) kan bayar, sudah gitu (tarifnya) nggak flat. Sedangkan kita sehari dapatnya nggak seberapa," tutur Salam.