Kisah 7 Saudara Asal Cilacap Ngamen Angklung di Jakarta Selatan
Yani, warga Tanah Kusir, telah malang melintang di dunia ngamen sejak 10 tahun yang lalu
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan, TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas.
TRIBUNJAKARTA.COM, GANDARIA UTARA - Suara guncangan angklung mengalun merdu sepanjang Jalan Radio Dalam, Jakarta Selatan.
Sumber suara itu berasal dari grup musik yang beranggotakan tujuh orang.
Dengan membawa kotak cat bekas, mereka meminta sumbangan dari masyarakat sekitar situ.
Baca: Nikmatnya Mozzarela Khas Martabak Mertua, Bikin Lidah Bergoyang
Namun, siapa sangka jika dibalik suara indah angklung tersebut bukan berasal dari kepiawaian orang Sunda, melainkan para pengamen asal Cilacap, Jawa Tengah.
Yani, warga Tanah Kusir, telah malang melintang di dunia ngamen sejak 10 tahun yang lalu.
Ia mengaku harus berpikir keras untuk menyambung hidup di Jakarta.
"Saya dulu ngamen berdua. Tapi makin lama harus muter otak juga. Akhirnya bersama adik dan saudara-saudara saya dari Cilacap bikin grup musik ini,"ujarnya.
Baca: Perbaikan di Gerbang Tol Rorotan, Laju Kendaraan Melambat
Kemudian, ia membentuk grup musik yang beranggotakan sanak saudaranya.
"Saya bikin grup musik sama adek dan sodara lainnya. Nama grup musik diambil dari nama anaknya adek saya namanya Amanda, lengkapnya Amanda angklung Bambu Mekar Melati," lanjutnya sembari terkekeh.
Setiap kali tampil di jalanan grup musik itu selalu membawa alat musik seperti music box, angklung, kendang dan kecrekan.
"Tiap turun ke jalan kita bayar dulu sama bos untuk sewa alat musik angklung karena suaranya unik. Sehari setor 50 ribu untuk semua alat," terangnya pada TribunJakarta.com, Selasa (6/2/2018).
Sayangnya, kerja keras bermain musik tak selalu menuai untung malah buntung yang sering didapat.