Kilas Balik Kawasan Glodok Jadi Pusat Perayaan Cap Go Meh Jakarta, Sempat Dilarang di Era Soeharto
Kawasan Glodok merupakan sebuah kawasan tua di Ibukota dan disebut sebagai pecinan terbesar di Indonesia.
Penulis: Kurniawati Hasjanah | Editor: Kurniawati Hasjanah
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Kurniawati Hasjanah
TRIBUNJAKARTA.COM - Perayaan Cap Go Meh akan digelar secara meriah di kawasan Glodok.
Acara itu dilaksanakan pukul 13.00 sampai 17.30 WIB pada Minggu (4/3/2018).
Dikutip dari wartakotalive.com, Sekretaris Cap Go Meh Glodok 2018 Stefanus Gusma mengatakan, carnaval ini bertema nasionalisme, karena tidak hanya menampilkan kebudayaan Tionghoa, namun juga menampilkan seluruh kebudayaan Indonesia.
"Kita mencoba menampilkan kesenian dan kebudayaan yang ada di seluruh Indonesia ini, agar masyarakat tahu kalau Nusantara kita kaya akan budaya," ujar Gusma saat dihubungi Warta Kota, Kamis (22/2/2018).
Kawasan Glodok merupakan sebuah kawasan tua di Ibukota dan disebut sebagai pecinan terbesar di Indonesia.
Baca: Fadli Zon Akan Laporkan Fitnah dan Hoaks Ananda Sukarlan ke Bareskrim Polri
Disebut sebagai pecinan karena nampak masyarakat Tionghoa yang bermukim di Glodok, toko khas Tionghoa bisa ditemui dan aktivitas yang berhubungan dengan kebudayaan Tionghoa dapat dijumpai.
Di kawasan ini terdapat tiga vihara tua, berbagai bangunan tua bercorak oriental seperti Toko Gloria, Rumah Keluarga Souw dan lainnya.
Asal nama kawasan ini bukan berasal dari bahasa Tionghoa.
Dilansir dari nationalgeographic.co.id, nama Glodok berasal dari nama air yang berbunyi glodok-glodok atau grojok-grojok.
Hal itu disampaikan oleh Ira Lathief sebagai seorang pemandu wisata acara Jakarta Food Adventure.
Baca: Fadli Zon Akan Laporkan Fitnah dan Hoaks Ananda Sukarlan ke Bareskrim Polri
Tak hanya sekadar gedung khas oriental, kamu bisa menemukan beberapa atap bangunan lama yang mempertahankan atap lengkung khas Tionghoa, gerbang masuk khas Tionghoa pada gang-gang kecil, serta rumah-rumah dengan ciri khas Tionghoa.

Di kawasan ini pun kamu bisa dengan mudah mendengarkan Bahasa Tionghoa dan musik bernuasa Tionghoa.
Baca: Penyanyi Dangdut Cupi Cupita Telah Tiba di Gedung BNN
Tak hanya berbagai ciri khas Tionghoa, disini juga terdapat Gereja Santa Maria De Fatima dengan arsitektur khas.
Keunikan gereja ini adanya inskripsi dalam bentuk aksara Tionghoa.
Di bagian bubungan atap tertera daerah asal pemiliknya di Kabupaten Nan An, keresidenan Quanzhou, Provinsi Fujian.

Sementara inskripsi lain di bagian bubungan atap yaitu "fu shou, kang, ning" yang artinya rezeki, umur panjang, kesehatan dan ketentraman.
Perayaan Cap Go Meh dikawasan ini sudah ada sejak era Soekarno namun sempat dilarang di era Soeharto.
Hal itu berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.
Dilansir dari Kompas.com, ketika Gus Dur terpilih menjadi presiden hasil pemilihan umum pertama pada era reformasi, Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 dengan terbitnya Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 pada 17 Januari 2000.
Dikutip dari harian Kompas, Sekretaris Dewan Rohaniwan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Budi Tanuwibowo masih ingat kejadian yang melatarbelakangi pencabutan inpres tersebut.
Prosesnya terbilang cepat, malah membuat Budi kaget dengan sikap Gus Dur itu.
"Waktu itu, kami ngobrol sambil berjalan mengelilingi Istana. Gus Dur lalu bilang, oke, Imlek digelar dua kali, di Jakarta dan Surabaya untuk Cap Go Meh. Kaget juga saya," kata Budi, dikutip dari harian Kompas yang terbit 7 Februari 2016.
Rencana perayaan Imlek dan Cap Go Meh itu tentu saja terhambat Inpres Nomor 14/1967 yang saat itu masih berlaku.
Namun, dengan spontan, Gus Dur berkata, "Gampang, inpres saya cabut."
Pencabutan pun dilakukan dengan penerbitan Keppres Nomor 6/2000.

Keppres itu kemudian menjadikan etnis Tionghoa mulai merayakan Imlek secara terbuka.
Kemeriahan pun terlihat di perayaan Imlek, yang saat itu ditandai sebagai tahun Naga Emas.
Ornamen naga, lampion, dan angpau ikut terlihat terpasang indah di sejumlah pertokoan.
Dilansir dari Tribunnews.com, beberapa tokoh nasional dijadwalkan hadir di Karnaval Cap Go Meh 2018 di Glodok.
Para tokoh nasional yang akan hadir antara lain Menko PMK Puan Maharani, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menkominfo Rudiantara, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPR Bambang Soesatyo dan Ketua DPD Oesman Sapta Odang.
"Selain Barongsai dan arak-arakan Joli yang menjadi ciri khas Cap Go Meh, akan ada tarian Gemufamire, Sisingaan, Reog Ponorogo dan juga marching band dari Remaja Masjid Istiqlal yang sangat bersemangat untuk ikut memeriahkan acara," ujar Ketua Dewan Pembina Panitia Cap Go Meh Glodok 2018, Charles Honoris.
Cap Go Meh Dahulu Kala
Perayaan Cap Go Meh dahulu hanya untuk kalangan istana dan belum dikenal secara umum oleh masyarakat Tiongkok.
Baca: Berlibur di Jakarta, Mahasiswa Asal Mataram Jajal Naik Bus City Tour
Acara itu dilakukan saat malam hari sehingga diperlukan lampu lampion yang dipasang sejak senja hingga keesokan harinya.
Dikutip www.tionghoa.info, saat Dinasti Han di China berakhir perayaan menjadi terbuka untuk umum.
Baca: VIDEO: Soal Grasi Abu Bakar Baasyir, Apa Kata Jokowi?
Festival ini merupakan acara dimana masyarakat diperbolehkan untuk bersenang-senang.
Ketika malam hari, masyarakat akan turun ke jalan untuk menikmati pemandangan berbagai bentuk lampion.
Tak hanya itu, masyarakat juga bisa menyaksikan tarian naga dan Barongsai.

Saat berkumpul, masyarakat akan memainkan permainan teka-teki dan lainnya seraya menyantap Wedang Ronde atau biasa disebut Wedang Ronde.