Jusuf Kalla dan Boediono Blak-blakan Perihal Suka Duka Jadi Orang Nomor Dua, Jawabannya Tak Terduga
Lalu bagaimanakah tanggapan mereka mengenai posisi sebagai orang nomor dua di Indonesia? Mari Kita simak kisahnnya!
Penulis: Rr Dewi Kartika H | Editor: Rr Dewi Kartika H
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Rr Dewi Kartika H
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Jusuf Kalla telah menjadi wakil presiden sebanyak dua kali.
Kali pertama saat masa kepemimpinan SBY dan kali kedua pada masa kepemimpinan Jokowi.
Sedangkan Boediono juga menjadi wakil presiden di masa ke pemimpinan SBY periode dua.
Lalu bagaimanakah tanggapan mereka mengenai posisi sebagai orang nomor dua di Indonesia?
Mari Kita simak kisahnnya!
TONTON JUGA
Dikutip TribunJakarta.com dari akun You Tube Metrotvnews, Jusuf Kalla dan Boediono blak-blak bercerita soal suka duka menjadi orang nomor dua.
"Apa enaknya dan tidak enaknya jadi orang nomor dua pak?" ujar Najwa Sihab.
Mendengar pertanyaan tersebut, Jokowi yang hadir di studio Mata Najwa tertawa terbahak.
Begitu juga dengan Jk dan Boediono.
Baca: Dodo Sang Penjual Lumut, Siapa Sangka Ia Mampu Sekolahkan Empat Anaknya Hingga Kuliah
Keduanya saling lempar untuk siapa yang menjawab terlebih dahulu.
"Dia dulu," ujar Budiono disertai gelak tawa.
Akhirnya mau tak mau, JK menjawab pertanyaan tersebut.
JK mengatakan dirinya dapat berbuat sesuatu, namun apabila perbuatannya salah atau tidak tepat maka yang akan bertanggung jawab adalah orang nomor satu (presiden).
"Oh enaknya kita boleh berbuat sesuatu yang bertanggung jawab nomor satu," ujar JK
Mendengar jawaban JK seluruh penonton yang hadir di studio tertawa.
Jk juga menambahkan jika dia melakukan kesalahan maka presiden lah yang akan dipanggil oleh DPR.
"Kalau kita salah bukam kita yamng dipanggil ke dpr," kata JK.
Baca: Pengusaha Hingga Politisi Terkenal Indonesia Beli Gadis Perawan di Cinderella Escorts
Setelah menyebutkan enaknya jadi wakil presiden, politisi senior itu blak-blakan kalau setiap kerja kerasnya akan diatas namakan orang nomor satu
"Kalau kita kerja keras atas nama nomor satu juga," tambah JK
Setelah JK giliran Budiono yang menjawab pertanyaan enak tidak enaknya jadi orang nomor dua.
Tidak menjawab secara terang-terangan, Boediono menyetujui pernytaan Jk yang sebelumnya.
"Ya itu nasib orang nomor dua," ujar Boediono.
Dengan mengejutkan JK kembali mmeberikan pernyataan soal tidak enaknya jadi orang nomor dua, yakni gaji yang lebih kecil dibanding ornag nomor satu.
"Gajinya lebih kecil," ujar JK.
Jusuf Kalla ditanya: Enak jadi wakil presiden-nya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atau Jokowi?
"@Pak JK: enakan mana pak, jadi wapresnya pak Jokowi atau wapresnya pak SBY? Dan apa kelebihan dan kekurangan dari kedua presiden tersebut?" tulisnya.
Setelah mendengar pernyataan itu, Jusuf Kalla langsung tertawa, tak langsung menjawab.
"Tidak etis untuk menilai atasan. Kalau saya menilai tentu tidak enak, tidak bagus, jangan begitu, " jawabnya sembari disambut tertawa dari penonton di studio.
Dengan sigap Najwa Shihab pun menambahkan pertanyaan lain.
"Kalau begitu memuji dua-duanya deh pak. Pujiannya harus beda tapi pak," potong Najwa Shihab.
Baca: Google Doodle: Cerita Singkat Seorang Anandi Gopal, Dokter Wanita Pertama India
Akhirnya Jusuf Kalla pun mau melontarkan jawaban atas pertanyaan tersebut.
Menurut politikus senior asal Sulsel ini, pada era Presiden Joko Widodo, semua hal itu dirapatkan.
"Sehingga rapat itu boleh 2 sampai 3 kali seminggu," ungkap Jusuf Kalla.
"Semua dirapatkan, semua hal-hal dimusyawarahkan," imbuhnya.
Namun, karena keseringan rapat, Jusuf Kalla mengaku jadi tidak bisa pergi ke mana-mana.
"Kalau sekarang, pergi tiba-tiba dipanggil pulang," katanya sembari terkekeh.
Baca: Band Hardcore Punk AS, Agnostic Front Tampil Perdana di Indonesia, Catat Tanggalnya!
Najwa Shihab sebagai host acara tersebut sempat heran.
"Loh, saya ngiranya malah sebaliknya tuh pak? (maksudnya justru zaman Pak SBY yang lebih banyak rapat kabinet dibanding era Jokowi)," sela Najwa.
Tapi setelah itu, Jusuf Kalla malah menambahkan bahwa di era SBY rapatnya hanya sekali dalam seminggu.
"Tapi zaman waktu SBY kurang rapat bagus juga, jadi bebas untuk ke mana-mana," tambahnya politikus senior partai Golkar itu.