Debat Paslon Wali Kota Bekasi Serempet Persoalan Lama

Untuk itu, dirinya ingin mengetahui sikap dari Rahmat Effendi yang saat itu menjadi Wali Kota Bekasi.

Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Kurniawati Hasjanah
TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BACHTIAR
Suasana debat calon Wali Kota Bekasi, Rabu (11/4/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI TIMUR - Debat terbuka pasangan calon (paslon) Wali Kota Bekasi diwarnai aksi membahas permasalahan Kota Bekasi antara kandidat, Rabu (11/4/2018). 

Permasalahan yang disorot saat debat yakni mengenai pembangunan rumah ibadah.

"Pengalaman saya berkeliling di utara, masih menyisahkan konflik sosial, di Utara masih menyisakan konflik sosial soal Santa Clara, di Jatisampurna, di Bantargebang Ciketing," kata Nur Supriyanto.

Nur menambahkan, seharusnya permasalahan tersebut tidak bisa terjadi dan lukanya membekas sampai sekarang.

Untuk itu, dirinya ingin mengetahui sikap dari Rahmat Effendi yang saat itu  menjadi Wali Kota Bekasi.

Baca: Putra Daerah Bali Ini Punya 16 Mobil dengan Puluhan Miliar, Raffi Ahmad Mah Kalah

"Oleh karena itu saya ingin tahu sikap beliau (Rahmat Effendi) yang sebetulnya. Kan kalau data digital bisa jadi berbeda dengan beliau, kan ada juga yang sampai berucap meski ditembak kepalanya tidak akam mecabut keputusannya," jelas Nur Supriyanto.

"Saya ingin bertanya bagaimana sikap anda menyikapi sesuatu yang terjadi sekian lalu. Ini sisa konflik sosial, ketika saya jadi Wali Kota nantinya, ini akan saya selesaikan," tambah Nur.

Menanggapi pertanyaan itu,  Rahmat Effendi mengatakan, pada saat terjadi konflik perbedaan keyakinan di Jatisampurna, dia mengaku bertanya kepada Wakil Wali Kota Bekasi saat itu Ahmad Syaikhu.

"Pak Ustad (Ahmad Syaikhu) apa yang harus saya lakukan dalam konteks kita sebagai kepala daerah, dia menjawab, lakukan sesuai ketentuan, aturan, norma yang berlaku, selesai," ungkap Rahmat Effendi.

Kemudian, terdapat sebuah pernyataannya berkaitan tentang pencabutan izin pembangunan rumah ibadah yang menyebutkan kalau dia tidak tidak akan mencabut izin tersebut bahkan kalau sampai tembak saja kepalanya, itu bukanlah kalimat utuh yang diucapkan.

"Kalau ada terjadi tembak saja kepala saya, saya tidak akan cabut izin gereja tersebut, ada koma, ada bahasa yang dipotong, saya akan cabut apabila ada keputusan kekuatan hukum," Kata pria yang akrab di sapa Pepen. 

Baca: Rayakan Ulang Tahun Sang Adik, Putri Marino Bongkar Tradisi Ultah Keluarganya

Dia menambahkan, dalam konteks berdemokrasi, Politik adalah seni bagaimana seni itu berjalan ketika menggunakan etika dan hati, sedangkan dalam konteks keberagaman, perlu komitmen untuk membangun Kota Bekasi yang pluralis dan mengayomi 324 ribu non muslim di Kota Bekasi.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved