Baik, Ramah dan Dermawan, Sosok Sastrawan Danarto di Mata Tetangganya

Shinta, tetangga lainnya juga hanya mengenal Danarto yang ia ketahui sebagai sosok yang baik dan ramah kepada orang-orang

Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Muhammad Zulfikar
Danarto, penyair(KOMPAS/Putu Fajar Arcana) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, PAMULANG - Sastrawan besar Indonesia, Danarto, tidak dikenal oleh para tetangga di kawasan tempat tinggalnya di Jalan Kedaung Hijau, Pamulang Tangerang Selatan.

Mereka tidak mengetahui pria 78 tahun yang selama ini sering ditemuinya memiliki sederet karya gemilang dan pengaruh yang besar dalam dunia sastra dan seni lukis di Indonesia.

Para tetangga hanya mengenal Danarto sebagai pria tua yang mereka sebut bapak, engkong, pakde, dengan kesederhanaannya, keramahan dan kedermawanannya.

Tim TribunJakarta.com menemui lima orang tetangga Danarto pada Rabu (11/4/2018), dan semuannya tidak ada yang menyebutkan kebesaran prestasinya, melainkan tiga hal di atas.

Ria, Sinta dan Bu Romi merupakan tetangga dari Danarto. Saat tim TribunJakarta.com menanyakan hal tetangganya dengan menyebutkan prestasi yang mentereng di dunia kesenian, mereka pun kaget.

"Saya enggak tahu, memang bapak itu sering melukis di rumahnya," ujar Bu Romi, pemilik usaha pembantu yang jasanya sering digunakan Danarto.

"Orangnya baik, saya saja kaget bapak ada yang nabrak, mungkin enggak sengaja kali ya," lanjutnya.

Baca: Walikota Jakarta Utara Miliki Tiga Agenda, Salah Satunya Hadiri Ultah HIPMI Ke-44

Shinta, tetangga lainnya juga hanya mengenal Danarto yang ia ketahui sebagai sosok yang baik dan ramah kepada orang-orang.

"Baik orangynya, sama siapa saja nyapa, ke yang tidak dikenal juga disapa," kenang Shinta.

"Biasanya kalau pagi jam setengah enam cari sarapan, terus jam tujuh balik lagi, jam 10 sudah keluar lagi dia pakai baju putih dan topi pet coklat seringnya," lanjut kenangnya.

Ria juga menceritakan betapa Danarto senang dengan anaknya yang berumur empat tahun bernama Alvino. Danarto sering membelikannya jajan dan bercanda bersamanya.

"Bapak senang banget sama anak saya, malahan dia sampai memanggil 'Alvino!' lalu dia ngumpet dan mengagetkan saat Alvino keluar rumah," ujar Ria menceritakan keramahan tetangga sebelah rumahnya tersebut.

"Mungkin dia orang pintar ya, tapi bicaranya sedikit, bisa nahannya gitu ya," ujarnya lagi.

Tetangga lain sang penulis kumpulan cerpen berjudul 'Setangkai Melati di Sayap Jibril' itu adalah, Sri Wahyuni, penjaga warung makan di sebelah kontrakannya.

Ia sudah hafal menu favorit pria berrambut putih itu adalah sayur bening dengan nasi sedikit.

Sri Wahyuni mengaku sampai menangis saat mendengar kabar wafatnya Danarto yang selama ini hanya ia kenal dengan sebutan 'bapak' saja.

Ia mengenal Danarto sebagai orang yang dermawan dan baik. Menurutnya, meskipun hidup sederhana, tetapi ia sering memberi kepada orang lain.

"Baik banget, malah dia kalau ada pengemis, tukang sampah atau siapa, suka ngasih, walaupun keadaan dia juga hanya seperti itu," ujar Sri Wahyuni sambil membuat minum untuk pembelinya.

Baca: Danjen Kopassus Adakan Silaturahmi dengan Pemred Media Nasional

Di warung Sri Wahyuni, Sumarno, pengendara ojek yang sering makan di tempat tersebut, juga mengenal Danarto.

Sumarno mengingat Danarto sebagai sosok yang pendiam, walaupun suka menyapa orang.

Ia juga mengenal gaya jalannya yang lambat dengan tas bahan (tote bag) yang selalu dibawanya.

"Orangnya pendiem, enggak banyak komentar. Gendong tas bahan biasanya, jalannya lambat," ujarnya

Danarto meninggal dunia karena luka parah di bagian kepala lantaran kecelakaan ditabrak motor pada Selasa (10/4/2018) lalu.

Meskipun sudah mendapat penanganan medis di Rumah Sakit UIN dan Rumah Sakit Fatmawati, namun akhirnya ia menghembuskan napas terakhirnya pada pukul 20.54 WIB.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved