Ramadan 2018

Menengok Masjid Jawa dengan Atap Limasan di Bangkok

Seusai khotbah di masjid KBRI di Thailand, saya mengunjungi Masjid Jawa di Jalan Soi Charoen Rat 1 Yaek 9, Sathorn, Bangkok.

Editor: Y Gustaman
Kompas.com/Rakhmat Nur Hakim
Masjid Jawa atau Jawa Mosque berada di Jalan Soi Charoen Rat 1 Yaek 9, Sathorn, Bangkok, Thailand, Sabtu (11/2/2017). Masjid berarsitektur Jawa yang berdiri sejak 108 tahun lalu ini dibangun oleh H Muhammad Saleh, mertua KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. 

TRIBUNJAKARTA.COM, BANGKOK - Seusai khotbah di masjid KBRI di Thailand, saya mengunjungi Masjid Jawa di Jalan Soi Charoen Rat 1 Yaek 9, Sathorn, Bangkok.

Masjid ini didirikan oleh Muhammad Sholeh asal Rembang, Jawa Tengah, yang merantau ke Bangkok pada abad 19.

Awalnya, adalah tempat pengajian dan yasinan yang kemudian diwakafkan menjadi masjid dan tempat pendidikan.

Masjid ini didirikan di atas tanah wakaf milik Haji Muhammad Saleh, perantauan Jawa pada 2448 dalam tahun Thailand atau sekitar 1906.

Arsitektur masjid ini kental Jawa karena memiliki atap limasan berundak tiga dan kelir bangunan dominan hijau muda.

Sepintas serasa melihat Masjid Agung Kauman di Yogyakarta dalam ukuran mini.

Bangunan utama masjid berbentuk segiempat ukuran 12 x 12 meter dengan empat pilar di tengah yang menjadi penyangga. Selain sisi arah kiblat, di tiga sisi lainnya terdapat masing-masing tiga pintu kayu.

KH Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia Pusat, saat mengunjungi Masjid Jawa di Bangkok, Thailand.
KH Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia Pusat, saat mengunjungi Masjid Jawa di Bangkok, Thailand. (Istimewa)

Di luar bangunan utama, terdapat serambi dengan empat pintu yang terbuat dari jeruji besi. Di depan (mihrab), terdapat sebuah mimbar kayu yang dilengkapi tangga dan di kanan dan kirinya terdapat dua buah jam lonceng, juga terbuat dari kayu.

Ada dua bangunan utama yaitu masjid dan madrasah berbentuk rumah panggung dengan aneka jejeran kursi dan meja di kolong rumah.

Sementara di seberang masjid ada tempat pemakaman Islam. Interior masjid sungguh membuat saya merasa sedang berada di sebuah masjid tua di Jawa. Di samping kiri masjid terdapat prasasti peresmian masjid berbahasa Thailand.

Jawa Mosque punya madrasah dengan 200-an siswa.

Mereka menggelar pengajian Alquran pada Minggu untuk dewasa dan anak-anak pada Senin sampai Jumat.

Di kampung Jawa ini juga tinggal juga cucu KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah sekaligus tokoh Islam Indonesia, dialah Walidah Dahlan.

Saat saya berkunjung ke masjid Jawa sempat mampir dengan Ibu Ma’rifah putri tertua pasangan dari Muhammad Irfan Dahlan (cucu Kiai Ahmad Dahlan pendiri organisasi Muhammadiyah) dan Ibu Zuhrah putri H Muhammad Sholeh, pendiri masjid Jawa asal Rembang Jawa Tengah, warga Nahdliyin.

KH Cholil Nafis mendengar penjelasan Ibu Ma’rifah, putri tertua pasangan Muhammad Irfan Dahlan (cucu Kiai Ahmad Dahlan pendiri organisasi Muhammadiyah), menjelaskan fungsi Masjid Jawa dan madrasah yang satu kompleks dengan masjid.
KH Cholil Nafis mendengar penjelasan Ibu Ma’rifah, putri tertua pasangan Muhammad Irfan Dahlan (cucu Kiai Ahmad Dahlan pendiri organisasi Muhammadiyah), menjelaskan fungsi Masjid Jawa dan madrasah yang satu kompleks dengan masjid. (Istimewa)

Ma’rifah menjelaskan masjid itu terus berfungsi sebagai sarana keagamaan dan pendidikan. Ada pelajaran bahasa Indonesia di madrasah Masjid Jawa secara rutin untuk terus memelihara rasa cinta Indonesia. Pemgantar bahasa pembelajaran acapkali bercampur, antara Thailand, Indonesia dan Jawa.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved