Murid SD dan SMP Bebas dari PR, Kadisdik Depok Ungkap Dampak Positif dan Negatif
Para guru diharapkan dapat memberi tugas kepada muridnya yang dapat diselesaikan di sekolah.
Penulis: Bima Putra | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra
TRIBUNJAKARTA.COM, SUKMAJAYA - Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok Mohammad Thamrin mengatakan ada dampak positif dan negatif pada penerapan Kurikulum 2013 (K13) yang diterapkan di seluruh SD dan SMP di Depok.
Ia menyebut dampak negatif dari penerapan K13 timbul saat orangtua tidak memperdulikan pembelajaran anaknya sewaktu di rumah karena tidak ada pekerjaan rumah (PR).
• Selain Mahkota Senilai Rp 3 Milyar, Ini Sederet Hadiah untuk Pemenang Miss Grand Indonesia 2018
"Sebenarnya ada nilai positif dan negatifnya juga. Jangan sampai sudah enggak ada PR di rumah juga enggak belajar, itu juga salah juga. Harapannya kalau ada tugas tambahan ini orangtua bisa peduli juga," kata Thamrin lewat sambungan telepon di Sukmajaya, Sabtu (21/7/2018).
Menurutnya, seorang guru memiliki pertimbangan sendiri kala memberikan tugas kepada anak untuk dikerjakan di rumah.
Lantaran tidak semua anak memiliki kemampuan yang sama dalam mencerna pembelajaran yang didapatnya di sekolah.
Karena pertimbangan ini, Thamrin menuturkan belum menetapkan sanksi apa bagi guru yang masih memberikan PR kepada muridnya.
• Menabung 28 Tahun, Perempuan Penjual Sayur Keliling Ini Akhirnya Berangkat Ibadah Haji
"Belum memberikan sanksi seperti itu. Mungkin untuk melatih kemampuan anak juga, kan tidak semua anak punya kemampuan yang sama. Nah mungkin di sekolahnya belum tuntas, lalu di rumah orangtua juga bisa ikut peduli," ujarnya.
Meski belum menetapkan akan memberi sanksi atau tidak, Thamrin tetap mengimbau para guru SD dan SMP di Depok sedapat mungkin tidak memberi PR.
Para guru diharapkan dapat memberi tugas kepada muridnya yang dapat diselesaikan di sekolah.
"Kalau memang pembelajaran itu belum tuntas memang bisa. Tapi alangkah baiknya dituntaskan di sekolah," lanjutnya.