Relationship: Ini Perbedaan antara Poliamori dan Hubungan Anarki

Hubungan Anarki adalah ketika kamu memiliki hubungan (seksual, romantis, keduanya atau tidak sama sekali) dengan banyak orang.

Tayang:
Penulis: Ananda Bayu Sidarta | Editor: Erik Sinaga
Grafis Tribun Jakarta / Metro.co.uk
Relationship 

Poliamori memiliki aturan, kamu menggambarkan antara siapa dan bukan mitra.

Ini umum dalam poliamori memiliki mitra primer dan sekunder, yang membentuk hierarki.

Dalam hubungan anarki tidak ada batasan antara hubungan(pacaran) dan hubungan seksual atau romantis yang tidak dianggap lebih berharga daripada hubungan platonis.

Apa gunanya?

Idenya adalah bahwa alih-alih menjadikan orang sebagai prioritas dengan memberi mereka label, gelar, atau apapun sebutannya, kamu menghabiskan waktu dengan siapa pun yang kamu rasa dekat, dan menikmati orang-orang dalam kehidupanmu atas dasar kepribadian mereka dan bagaimana mereka membuatmu merasakannya, daripada peran tertentu.

Hubungan anarki merasa tidak membantu untuk menciptakan hierarki dalam hubungan mereka, atau berjanji untuk mencintai pasangan dengan cara yang spesifik dan statis tanpa mengetahui bagaimana kalian berdua dapat berubah di masa depan.

Hubungan anarki memungkinkan keluwesan dalam hubungan, yang bertentangan dengan sikap monogami tradisional 'semua atau tidak sama sekali'.

Hubungan ini memungkinkan orang-orang untuk membuat komitmen khusus kepada individu dan didiktekan oleh mereka, daripada mengikuti blueprint tradisional(adat yang sudah ada).

Misalnya, monogami seksual mungkin tidak ada di kartu, tetapi sebagai contoh komitmen untuk selalu menonton episode drama korea bersama-sama, atau hanya pernah melakukan seks tertentu satu sama lain.

Jika kamu mempertimbangkan untuk memulai hubungan terbuka, kamu mungkin ingin membaca buku seputar tentang hal itu.

Kamu juga mungkin ingin mempertimbangkan untuk berbicara dengan seorang konselor hubungan yang berpikiran terbuka.

Tidak ada yang salah dengan menolak monogami, tetapi hubungan terbuka tidak untuk semua orang.

Namun, semua itu tergantung bagaimana individu menyikapi segala sesuatunya secara bijak dan mana yang diyakininya lebih tepat.

(*)

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved