Cerita Tya Trauma dan Menangis Saat Jadi SPG Ditawar Pria Hidung Belang
"Malam, mungkin sekitar pukul 22.00. Saat menunggu jemputan, tiba-tiba ada mobil yang menghampiri.
TRIBUNJAKARTA.COM - C Tya Dipta masih mengingat pengalaman tak menyenangkan saat menjadi SPG di sebuah pusat perbelanjaan di sekitaran Simpanglima, Semarang.
Menurut dia, hal itu tak lepas dari image negatif SPG, di mana sebagian orang menilai ujung tombak penjualan produk ini rata-rata bisa diboking.
"Tak dipungkiri, sebagian orang berpikiran SPG itu kebanyakan bisa diboking, sebagai cewek panggilan, pemuas nafsu sesaat, dengan imbalan sejumlah rupiah," kata Tya, kepada Tribun Jateng, baru-baru ini.
Dia menceritakan, pengalaman tak mengenakkan itu dialami saat menunggu jemputan keluarga usai pulang kerja.
Kala itu, ia menunggu jemputan di sekitar mulut Jalan Ahmad Yani, tak jauh dari kawasan Simpanglima.
"Malam, mungkin sekitar pukul 22.00. Saat menunggu jemputan, tiba-tiba ada mobil yang menghampiri.
Setelah kaca depan terbuka, om-om yang di dalam mobil sekonyong-konyong bilang 'Yuuk masuk, lagi avail-kan, semalam berapa?'
Dengar kata begitu, saya hanya bisa bengong, lalu pergi dari situ," ceritanya.
Ia pun kembali ke area mal yang sudah hampir tutup sempurna.
Di sana, ia mencari teman sesama SPG yang hendak pulang dan menunggu jemputan.
"Saya cerita pengalaman itu, kata mereka sudah biasa ada yang begitu. Karena memang tak jarang ada SPG yang nyambi," tuturnya.
Tya menuturkan, pengalaman serupa kembali terulang sekitar sepekan kemudian.
Saat menunggu jemputan, ia kembali dihampiri mobil yang dikemudikan seorang pria yang ia taksir berusia 40-an tahun.
"Hampir sama, tiba-tiba saat kaca jendela mobil terbuka, om-om itu bilang:
'Bisa long time atau short time? Berapa duit?'. Sontak, saya pergi dari situ dan menangis, dalam hati bilang, kok begini banget ya," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/ilustrasi-spg_20180814_182457.jpg)