Jarang Pulang, Pria Ini Ungkap Suka Duka Pekerja Pasar Malam: Dapat Bayaran Rp400 Ribu Perhari

Air minum dari sebuah galon yang dituangkan ke gelas plastik seadanyapun menjadi pelepas dahaga saat dirinya selesai melakukan atraksi.

Penulis: Anisa Kurniasih | Editor: Ilusi Insiroh
TRIBUNJAKARTA.COM/ANISA KURNIASIH
Pasar malam Cipulir di Kebayoran Selatan 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Anisa Kurniasih

TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN LAMA - Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, itulah kehidupan sehari-hari Ucok Prabangsa, pria yang bekerja sebagai pekerja pasar malam.

Menjelang sore hingga malam, pria ini bertugas menerima karcis pengunjung yang akan menaiki wahana permainan.

Bersama beberapa rekannya, tak jarang Ucok pun menunjukan atraksinya saat menggerakan wahana ombak dengan mengikuti putaran wahana tersebut dan berputar sambil meloncat.

Seperti halnya yang ia lakukan di pasar malam Cipulir Jakarta Selatan sejak 20 Juli - 2 September 2018 mendatang.

Pria asal Sumatera tersebut mengaku hanya bisa pulang kerumah sebulan sekali dengan waktu yang singkat karena harus mengikuti jadwal pasar malam yang hadir dari kota ke kota lain bahkan luar pulau Jawa.

"Pulangnya ya kalau memang selesai event nanti gantian sama pekerja yang lain, dalam sebulan sekali bisa sih dikasih waktu buat pulang tapi kalau memang jadwal penuh ya tunggu sampai selesai dulu," ujar Ucok Prabangsa saat ditemui TribunJakarta.com, Sabtu (18/8/2018).

Saat pengunjung datang berbondong - bondong untuk menaiki wahana tersebut terkadang membuat dirinya harus beratraksi berulang - ulang hingga keringat berjatuhan bahkan menembus baju yang ia kenakan.

Air minum dari sebuah galon yang dituangkan ke gelas plastik seadanyapun menjadi pelepas dahaga saat dirinya selesai melakukan atraksi.

Namun, kelelahannya terbayar saat dirinya melihat ramainya pengunjung yang datang dan berminat menaiki wahana dari mulai kora - kora, ombak, biang lala dan lainnya.

"Dukanya pasti ada apalagi kalau pas hujan terpaksa semua wahana permainan dihentikan, kami harus menepi dan pengunjung pun sepi," tambahnya.

Namun semua itu terbayar ketika menurutnya banyak pengunjung yang datang di akhir pekan , bahkan jam buka pun diperpanjang pada Sabtu dan Minggu yaitu sejak 08.00 WIB.

Hal tersebut pun berpengaruh pada sistem bayaran dengan menggunakan persentase.

Ucok mengatakan bahwa dengan mengais rezeki di pasar malam, hidupnya pun terjamin bahkan terkadang bayarannya lebih dari cukup .

"Enaknya sih di kami tiap ke satu tempat ke tempat lain difasilitasi mengontrak bareng pekerja lainnya oleh bos , uang makan sehari Rp 50 ribu juga udah pasti," ujar Ucok.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved