Penjual Arang dan Tusuk Sate Dadakan Menjamur di Pasar Ciputat
Pria yang sudah menjadi penjual arang dadakan selama empat tahun itu, biasa berjualan saat Idul Adha
Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir
TRIBUNJAKARTA.COM, CIPUTAT - Idul Adha identik dengan tradisi membakar sate.
Daging kurban yang didapat dari masjid-masjid terdekat, biasa diolah menjadi sate untuk dimakan bersama-sama keluarga atau teman.
Tradisi itu pula yang memancing penjual alat penunjang sate unjuk diri dan menjamur secara dadakan atau tiba-tiba.
Paket bakar-bakaran semacam arang, tusuk sate, dan tempat bakaran pun ramai dijual di tepi-tepi jalan.
Berdasarkan pantauan TribunJakarta.com, sekira pukul 15.00 WIB, sepanjang pinggir Pasar Ciputat, Jalan Aria Putra, Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel), terdapat lima penjual paket bakar-bakaran itu.
• Polemik Tiket Final Bulutangkis: Habis Sejak Pagi, Curhat ke Menpora, Hingga Respon Inasgoc
Salah satunya adalah Muhamad Ridho Sahrian, pria 18 tahun itu menjual arang, tusuk sate dan bakaran sejak siang hari.
Ia mengatakan hal itu sudah biasa. Pria yang sudah menjadi penjual arang dadakan selama empat tahun itu, biasa berjualan saat Idul Adha dan malam tahun baru.
"Emang biasa. Kalau enggak Idul Adha ya pas malam tahun baru," ujarnya kepada TribunJakarta.com, Rabu (22/8/2018).
Ridho mengatakan hanya akan berjualan sampai besok, karena menurut pengalamannya, warga yang lakukan bakar-bakaran hanya pada dua hari Idul Adha.
"Ya sampai besok aja. Dua hari," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/pedagang-arang_20180822_123552.jpg)