Dolar Melambung, Harga Tempe Stabil, Pengusaha: Masih Pakai Stok Lama

Saat ditemui di pabrik kecilnya, Ade mengatakan sampai saat ini, harga kedelai merek yang ia gunakan, belum menaikan harga.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Jaisy Rahman Tohir
Ade Mulyadi, pengusaha tempe 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, CIPUTAT - Naiknya harga dolar Amerika Serikat, selalu berdampak pada industri tempe. Hal itu karena Indonesia masih menggantukan kebutuhan kacang kedelai, bahan baku tempe, dari hasil impor.

Paling tidak demikian pernyataan tersebut diungkapkan oleh Ade Mulyadi, pengusaha tempe di bilangan RT 11 RW 10 Kedaung, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel).

Saat ditemui di pabrik kecilnya, Ade mengatakan sampai saat ini, harga kedelai merek yang ia gunakan, belum menaikan harga.

Ia pun tidak menaikan harga tempe yang diproduksinya.

"Saya pakai yang 800 ribu per kwintal. Masih sama harganya," ujarnya.

Seperti diketahui, saat ini harga dolar Amerika Serikat mencapai Rp 14.938. Bahkan beberapa hari lalu sempat menyentuh Rp 15.000.

Ade mengatakan, biasanya jika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah, harga kedelai akan otomatis naik.

Tidak Boleh Membela Anak Saat Bersalah, Cara Ruben Onsu dan Sarwendah Didik Thalia Tuai Pujian

Pelatih Selangor FA Sebut Evan Dimas-Ilham Udin Lebih Baik dari Bambang Pamungkas-Elie Aiboy

Edaran Bupati Bireun: Nonmuhrim Dilarang Duduk Bareng di Cafe, Didukung FPI, Kritik Keras DPRA

Namun Ade juga mengatakan belum akan menaikkan harga tempe produksinya, jika harga kedelai naik, karena ia masih memiliki stok kedelai dan produksi tempe.

"Kita kan masih pakai stok lama," ujarnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved