Breaking News:

Penghuni Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang Melebihi Kapasitas, Begini Kata Kalapas

Banyaknya kasus kriminal di Tangerang membuat warga binaan Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang membludak.

Penulis: Ega Alfreda | Editor: Y Gustaman
TribunJakarta.com/Ega Alfreda
SJ (27) yang mencoba menyelundupkan Narkotika jenis sabu-sabu ke dalam Lapas Pemuda Kelas IIA di dalam bungkus makanan ringan, Rabu (5/9/2018) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Banyaknya kasus kriminal di Tangerang membuat warga binaan Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang membludak.

Jumlah warga binaan telah melebihi batas tampung.

Kepala Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang, Jumadi, mengakui belum mendapatkan solusi untuk mengurangi membengkaknya jumlah warga binaan.

"Kita masih carikan solusinya, karena kalau mau kita transfer atau pindahkan semua lapas juga sudah penuh dan overcapacity," ujar Jumadi saat ditemui di Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang, Rabu (5/9/2018).

Ia meyakini pengamanan dan kelayakan hidup narapidana di Lapas Pemuda terjamin dan tidak ada pelanggaran.

Pada kesempatan yang sama, Taufiqurrakhman, Kadiv Pemasyarakatan Kanwil Kumham Banten mengatakan jumlah petugas dan narapidana sangat tidak seimbang.

Narapidana atau warga binaan di Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang berjumlah sekira 2600 jiwa sedangkan petugas hanya ada 13 jiwa.

"Ini sudah jelas sangat tidak berimbang. Namun pengawasan tetap intensif terhadap segala jenis tindak pidana," jelas dia.

Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang telah terjadi percobaan penyelundupan narkotika jenis sabu yang disembunyikan di dalam bungkus makanan ringan dan sebuah botol minuman.

Penyelundupan sabu digagalkan petugas yang berjaga. Pelaku berinisial SJ (27) mengaku hanya kurir yang hendak mengantarkan 300 gram sabu tersebut kepada pembeli di dalam lapas.

"Itu bukti, dan sudah menjadi SOP kita untuk selalu memeriksa barang bawaan tanpa terkecuali. Untuk penerima masih diselidiki, yang jelas bila ketahuan adalah petugas maka akan dikeluarkan secara tidak terhormat. Itu sudah menjadi perintah pak menteri juga," tegas Taufiqurrakhman.

Dari perbuatan SJ, ia disangkakan Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 112 ayat (2) UU RI No 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Tersangka dikenakan pidana maksimal 20 tahun dan pidana denda maksimal Rp 10 miliar.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved