Breaking News:

Udara di Jakarta Dinilai Tidak Sehat, Masyarakat Terancam Terkena Particular Matter 2,5

Bondan juga mengatakan bahwa kondisi udara di DKI Jakarta tidak sehat dan berbahaya

TribunJakarta.com/Suci Febriastuti
Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu di dalam Clean Air Studio Plaza Festival Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (14/9/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Suci Febriastuti

TRIBUNJAKARTA.COM, KUNINGAN - Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu menyebut polutan berbentuk zat padat yang dinamakan Particular Matter 2,5 atau PM 2,5 sangat berbahaya bagi kesehatan.

Ia menjelasakan PM 2,5 ini akan masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan manusia dan dapat menetap di dalam tubuh dalam jangka waktu yang lama.

"Kenapa bahaya, karena kalau PM 2,5 ini terpapar ke udara dan terkena manusia bukan hanya masuk ke hidung tetapi juga masuk ke arteri paru-paru yang paling kecil. Dan itu konsisten enggak akan hilang," kata Bondan saat ditemui di Plaza Festival Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (14/9/2018).

Bondan mengatakan PM 2,5 memiliki ukuran yang sangat halus yaitu 1 per 30 ukuran rambut manusia.

Ia menjelaskan PM 2,5 ini berasal dari dari semua pembakaran, diantaranya pembakaran bahan bakar fosil, pembakaran sampah, pembakaran industri, bahkan penggunaan listrik yang menggunakan batu bara.

Unggah Foto Jadul saat Berusia 18 Tahun, Maia Estianty Dibilang Mirip Meriam Bellina

Bondan juga mengatakan bahwa kondisi udara di DKI Jakarta tidak sehat dan berbahaya.

"Dari tahun lalu kita kampanye dan ternyata kita ngukur dari 2016, 2017, dan 2018 itu angka tidak sehatnya sangat banyak," katanya.

Kalau untuk kesehatan dampaknya karsinogenik atau zat-zat serta paparan dari PM 2,5 ini dapat memicu kanker.

"Salah satunya bisa jadi kanker paru karena bentuknya yang kecil lalu masuk ke dalam paru-paru dan menimbulkan kanker paru-paru," kata dia.

Seperti diketahui, penyakit kanker sampai saat ini adalah penyakit yang paling menakutkan dan dapat menimbulkan kematian.

Bondan mengatakan dampak paparan ini juga bisa dirasakan bertahun-tahun ke depan dalam jangka waktu yang lama.

"Karena yang dirasakan tidak hanya dalam waktu singkat tetapi juga dalam waktu yang lama. Jadi bisa jadi 10 atau 15 tahun kemudian siapapun yang terpapar PM 2,5 dalam waktu yang panjang dan terus menerus bisa merasakan dampaknya," tukasnya.

Penulis: Suci Febriastuti
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved