Menengok Columbarium di Ereveld Menteng Pulo, Tempat Penyimpanan Abu Korban Perang Dunia Kedua

Ereveld Menteng Pulo menjadi taman pemakaman yang bisa dijadikan destinasi wisata bagi para pecinta sejarah

Penulis: Anisa Kurniasih | Editor: Muhammad Zulfikar
TRIBUNJAKARTA.COM/ANISA KURNIASIH
Tim Wisata Kreatif Jakarta saat berkunjung ke Ereveld Menteng Pulo di Menteng Dalam Tebet Jakarta Selatan, Minggu (16/9/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Anisa Kurniasih

TRIBUNJAKARTA.COM, TEBET - Tak hanya terdiri dari ribuan makam para korban perang dunia kedua, di Ereveld Menteng Pulo terdapat beberapa monumen yang menjadi ciri khas.

Dua gedung tersebut adalah Gereja Simultaan yang tidak digunakan sebagai gereja tapi sebagai tempat acara peringatan dan upacara untuk semua agama, serta Columbarium yang menyimpan 754 guci abu militer Belanda yang gugur sebagai tawanan perang

Terdapat sebuah kolam dengan air mancur yang sengaja dibuat untuk memperindah gereja.

Di seberangnya terdapat columbarium, koridor dengan relung-relung pada dinding yang menjadi tempat menaruh tabung-tabung besi.

Tabung yang jumlahnya 754 buah tersebut, berisi abu dari korban perang yang dikremasi oleh tentara Jepang.

Dalam tiap kalengnya, terdapat keterangan nama, jabatan, tanggal lahir dan tanggal wafat.

Bahkan, terdapat juga sisa tulang dari jenazah yang masih berbunyi saat kaleng tersebut diguncangkan.

Kriss Hatta Disebut Tak Akan Biarkan Hilda Vitria Terkenal, Billy Syahputra: Ini Cowok Jahat

Polwan Anggota Densus 88 Jadi Korban Tabrak Lari di Jatinegara

Columbarium yang selesai dibuat tahun 1950 ini berbentuk huruf L, ditopang oleh deretan pilar berwarna putih dengan sebuah kubah berbentuk buah pir berwarna tosca diatasnya.

Tepat di bawah kubah terdapat tabung dari seorang serdadu tanpa nama dan patung seorang wanita dengan obor di tangan kanan.

Di atas kepalanya tertulis “De geest heeft overwonnen” yang berarti “Roh telah menang”.

Kalimat ini ternyata semboyan dari Seksi Pemakaman Angkatan Darat Belanda.

Simultaankerk dan columbarium memiliki jendela dengan kaca patri berwarna-warni yang dibuat oleh C. Stauthamer.

Tiap jendela tersebut memiliki gambar dengan arti yang berbeda-beda.

"Ratusan abu jenazah ini langsung didatangkan dari Jepang dengan kondisi yang sama tanpa ada perubahan, jadi dipindahkan kesini dan sampai sekarang masih terawat," ujar Tri Wulandari selaku pengawas di Ereveld Menteng Pulo.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved