Soal Bahaya Terobos Palang Pintu Kereta di Stasiun Cakung, Pengendara: Sudah Biasa Kayak Begini

Masih banyak pengendara bermotor menerobos perlintasan sebidang kendati palang pintu kereta api sudah ditutup.

Soal Bahaya Terobos Palang Pintu Kereta di Stasiun Cakung, Pengendara: Sudah Biasa Kayak Begini
TribunJakarta.com/Nawir Arsyad Akbar
Menunggu kereta melintas, puluhan pengendara motor berhenti di depan palang pintu di perlintasan sebidang di dekat Stasiun Cakung, Jakarta Timur, Senin (24/9/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nawir Arsyad Akbar

TRIBUNJAKARTA.COM, CAKUNG - Masih banyak pengendara bermotor menerobos perlintasan sebidang kendati palang pintu kereta api sudah ditutup.

Hal tersebut sering terlihat di Stasiun Cakung, Jakarta Timur, di mana puluhan pengendara motor nekat menerobos palang pintu kereta.

Alasan terburu-buru dan kereta yang belum terlihat, menjadi asalan pengemudi menerobos palang yang sudah menutup dan sinyal sudah berbunyi.

"Lagian keretanya tidak lewat sini, jadi aman pasti. Ramai-ramai juga ini, sudah biasa orang di sini kayak begini mas," ujar Khadir, pengendara motor kepada TribunJakartaa.com pada Senin (24/9/2018).

Pantauan TribunJakarta.com di Stasiun Cakung, jarak antara palang pintu dan rel kereta memang cukup jauh, sekira 10 meter.

Namun, di tempat tersebut banyak pengendara motor menunggu kereta untuk lewat, tapi mengabaikan keselamatannya.

"Jaraknya jauh, kalau tunggu di belakang palang (pintu) banyak mobil juga. Majuan begini juga biar cepat lewat," ujar Niko, pengendara motor.

Para pengguna jalan raya tidak menyadari, perilaku menerobos palang kereta ini merupakan bentuk pelanggaran.

Menurut Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan, pasal 296, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor pada perlintasan antara kereta api dan jalan, yang tidak berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan atau ada isyarat lain dapat dipidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750.000.

Ditanya apakah takut akan hukuman atau denda tersebut, sejumlah pengendara motor berdalih banyaknya orang yang melanggar membuatnya juga ikut melanggar.

"Suka diklaksonin kalau tidak maju, makanya terpaksa ikut juga. Kalau soal denda sih jarang ada petugas di sini, itu juga kayaknya yang buat orang berani menerobos," ujar Ersa, warga sekitar Stasiun Cakung.

Penulis: Nawir Arsyad Akbar
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved