Ngaku Dianiaya Sejumlah Pria, Ratna Sarumpaet Mengadu ke Prabowo Subianto
Ratna Sarumpaet mengaku dianiaya sekelompok pria tidak dikenal di sekitar Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat.
TRIBUNJAKARTA.COM - Ratna Sarumpaet mengaku dianiaya sekelompok pria tidak dikenal di sekitar Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat.
Setelah dianiaya, ia menyatakan sempat mendatangi rumah sakit di Cimahi.
Aktivis Ratna Sarumpaet akhirnya menceritakan kejadian sebenarnya yang menimpa dirinya.
Dia dianiaya dengan cara keji hingga wajahnya lebam.
Ratna Sarumpaet menceritakan kronologi penganiayaan yang dialaminya kepada Ketua Umum Partai Gerindra yang juga kandidat Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pertemuan tersebut hadir pula Ketua Dewam Kehormatan Partai Amanat Nasional Amien Rais dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon.
"Sore ini setelah agak pulih ia (Ratna Sarumpaet) melaporkan ke Pak Prabowo kejadian yg menimpanya. Pak Prabowo didampingi Pak Amien Rais dan Fadli Zon," ujar Wakil Ketua Tim Badan Pemenangan Nasional Prabowo Sandi, Nanik S Deyang di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan.
Menurut Nanik, Ratna dianiaya oleh tiga orang pada 21 September 2018 lalu di sekitar Bandara Husein Saatranegara, Bandung, Jawa Barat.
Malam itu Ratna baru saja menghadiri acara konferensi dengan peserta beberapa negara asing di sebuah hotel.
Kemudian Ratna naik taksi dengan peserta dari Sri Lanka dan Malaysia.
"Mbak Ratna sebetulnya agak curiga saat tiba tiba taksi dihentikan agak jauh dari keramaian. Nah saat dua temannya yang dari luar negeri turun dan berjalan menuju Bandara, Mbak Ratna ditarik tiga orang ke tempat gelap, dan dihajar habis oleh tiga orang, dan diinjak perutnya," kata Nanik.
Setelah dipukuli, Ratna dilempar ke pinggir jalan, sehingga bagian samping kepalanya robek.
Dengan sisa tenaga, Ratna mencari kendaraan menuju rumah sakit di Cimahi serta menelepon temannya seorang dokter bedah agar langsung ditangani.
Menurut pengakuan Ratna, lanjut Nanik, kejadiannya sangat cepat sehingga sulit mengingat bagaimana urutan kejadiannya.
"Mbak Ratna masih sedikit sadar saat dia kemudian dibopong sopir taksi dan dimasukkan ke dalam taksi. Oleh sopir taksi mbak Ratna diturunkan di pinggir jalan di daerah Cimahi," ucap Nanik.
"Mbak Ratna malam itu juga langsung balik ke Jakarta dan dalam situasi trauma habis dia harus berdiam diri selama 10 hari. Barulah hari Minggu lalu dia memanggil Fadli Zon ke rumahnya dan baru semalam Fadli Zon melaporkan ke Pak Prabowo, dan hari ini di suatu tempat mbak Ratna menemui Pak Prabowo," tuturnya.
Gerindra Desak Polisi Usut
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad berkomentar keras terkait dugaan penganiayaan terhadap aktivis perempuan Ratna Sarumpaet.
Menurut Dasco pelaku penganiayaan dan pemukulan tersebut sangat keji.
Dari foto yang beredar, wajah diduga Ratna penuh lebam dan hampir tidak bisa membuka matanya.
"Pelakunya biadab, ini sudah keterlaluan," kata Dasco.
Dasco yang menjabat Anggota Komisi III DPR tersebut meminta pihak kepolisian tidak tinggal diam.
Ia meminta polisi aktif mencari pelaku dan mengungkap motif penganiayaan tersebut, meskipun belum ada laporan.
Pasalnya, foto Ratna dengan wajah penuh lebam sudah menyebar dan dibenarkan beberapa pihak.
"Ini kasus harus diungkap, ini negara hukum! Negara yang menjunjung tinggi demokrasi," kata Dasco.
Menurut Dasco, jangan sampai penganiayaan tersebut dikarenakan sikap Ratna Sarumpaet yang lantang mengkritk pemerintah.
Bila kemudian penganiayaan tersebut dikarenakan sikap kritis Ratna, maka negara gagal melindungi warganya.
"Dan apabila nanti diketahui karena hal itu Ratna atau siapapun mengalami perlakuan yang sangat biadab ini, boleh dikatakan negara gagal melindungi warga negaranya di tanah tumpah darahnya sendiri," kata Dasco.
Sementara itu Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah meminta aparat penegak hukum memburu penganiaya Ratna Sarumpaet.
Menurutnya penganiayaan tersebut sangatlah keji, terlebih dilakukan pada perempuan berumur 70 tahun.
"Itu polisi harus cepat tuh nyari orangnya. Ambil segera CCTV nya kejar orangnya, siapa orangnya itu. Itu pasti, pasti bajingan betul itu orang itu. Mesti dikejar itu," ujar Fahri.
Fahri mengaku terpukul dengan kejadian yang menimpa Ratna tersebut.
Ia mengatakan penganiayaan itu sangatlah tidak manusiawi.
"Enggak perlu motifnya, Ini ada orang ibu kita 70 tahun dihajar katanya 3 orang laki laki. Keterlaluan itu. Mesti harus dihajar dan dikejar cepat itu," katanya.
Menurut Fahri dari informasi yang diterimanya, Ratna sangat terpukul.
Wajahnya rusak, lalu bersembunyi karena malu.
Apa yang terjadi pada Ratna menurutnya merupakan ancaman terhadap kebebasan berdemokrasi.
"Ini adalah ancaman kepada kebebasan kepada demokrasi kita, Ibu Ratna itu adalah aktivis yang perempuan yang sangat vokal dan kita mau perempuan perempuan lain itu vokalnya kayak Bu Ratna tapi dianiaya kayak gitu.
Menurut saya ini biadab dan harus dikejar," tuturnya.
Fahri meminta Polisi tidak lamban dalam menindaklanjuti kasus penganiayaan Ratna.
Polisi juga diminta aktif untuk mengusut kasus tersebut, meski ratna belum membuat laporan.
"Harus bekerja cepat polisinya. Jangan ada istilah lamban harus ditangkap.
Kalau bisa 1 2 hari ini harus ditangkap orangnya itu. Nggak perlu ada laporan kayak begini," pungkasnya. (Tribun Network/dit/fik/wly)