Pilpres 2019

Ramai Luhut Diminta Cium Kaki Fahri Hamzah, Sudjiwo Tedjo Ungkit Janji Amien Rais Saat Pilpres 2014

Sudjiwo Tedjo turut mengomentari usulan Menko Luhut mencium kaki Fahri Hamzah setelah proyek LRT di Jakarta dikritik Wapres JK karena berbiaya mahal.

Ramai Luhut Diminta Cium Kaki Fahri Hamzah, Sudjiwo Tedjo Ungkit Janji Amien Rais Saat Pilpres 2014
Instagram/@kristianto.purnomo & KOMPAS.com/Garry Andrew
sudjiwo Tedjo (kiri) dan Amien Rais (kanan) 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Tempo hari Fahri Hamzah sempat emosi dan curiga tiang penopang rel Light Rapid Transit (LRT) di Jakarta menjulang tinggi.

Wakil Ketua DPR RI itu mengklaim, ia dan banyak orang curiga kenapa tiang LRT begitu tinggi dan kenapa tak berjejak di tanah saja.

Belakangan, proyek LRT meledak di Twitter setelah #1km500 miliar menjadi trending topic, tak lama setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla menyoal proyek ini.

Menindaklanjuti kritik ini ada netizen @JohansyahUntung mengunggah sebuah video dengan menyertakan akun Twitter Fahri Hamzah.

Pada intinya, Menko Luhut diminta mencium kaki Fahri Hamzah karena Wapres JK menilai proyek LRT tidak efesien dan berbiaya mahal.

"Hayo .. Luhut BP // silahkan cium tuh kakinya Bang @Fahrihamzah," cuit @JohansyahUntung.

Menanggapi link video berisi ucapan Menko Luhut bersedia mencium kakinya, kemudian dikomentari Fahri Hamzah.

Fahri Hamzah mengaku tidak ingin mengusik tentang janji Menko Luhut yang ingin mencium kakinya.

"Gak usah gitu lah ..," tulis Fahri Hamzah.

Budayawan Sudjiwo Tedjo dengan nama Jack Separo Gendeng di akun Twitternya @sudjiwotedjo ikut menanggapi cium kaki Fahri Hamzah.

Ia meminta netizen yang mengusulkan itu, baiknya menagih kepada Amien Rais yang akan jalan kaki Yogyakarta-Jakarta bila Jokowi menang di Pilpres 2014.

"Yang nagih janji Pak Luhut untuk cium kaki Bang Fahri jika biaya LRT kemahalan, baiknya juga nagih janji Pak Amien yg akan jalan kaki Yogya-Jakarta bila Pak Jokowi menang Pilpres 2014 (dgn asumsi kedua janji itu betul2 ada). Nagih harus ke kedua pihak, atau gak usah nagih," cuit Sudjiwo Tedjo.

Tak lama cuitan Sudjiwo Tedjo dibalas Devid Rojo Parri'an di akun @parri_an.

Ia bertanya bagaimana untuk menagih janji kampanye Jokowi pas di Pilpres 2014.

Apakah harus ada pembandingnya.

Berikutnya Sudjiwo Tedjo memberikan cuitan terbaru yang membahas soal skeptisisme dan meminta kedua kubu di Pilpres 2019 tak fanatik buta terhadap calonnya.

"Yg skeptis pada klaim bahwa habib2 mendukung kubu X, sebaiknya juga skeptis pada klaim bahwa alumni UI mendukung kubu Y.

Skeptis terhadap apa pun sangat dianjurkan dan menjadi dasar jurnalistik yg sehat. Sinis terhadap apa pun, nah itu yg gak dianjurkan.

Mari tak membabi buta," tulis Sudjiwo Tedjo.

Omongan Fahri Hamzah menyoal tingginya tiang LRT ia sampaikan di DPR RI,Senin (25/6/2018).

Selain memakan biaya, menurut dia pemasang tia‎ng untuk LRT juga membahayakan dan menurut analisis yang didengarnya tidak diperlukan.

Kritikan Fahri Hamzah tersebut direspons Menko Luhut berikutnya.

Menko Luhut memintanya agar menghitung dan memberikan anggaran pas untuk proyek ini.

"Suruh dia hitung, bawa sini, saya cium kakinya kalau saya salah," tegas Luhut di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta Pusat, Senin (25/6/2018).

Menurut penjelasan Luhut, tinggi tiang LRT untuk jalur layang sudah sesuai dan berdasarkan perhitungan yang panjang.

Luhut menjelaskan model LRT yang digunakan di Indonesia sesuai standar Internasional dengan mengikuti model LRT yang diterapkan di Perancis.

"Kami tuh pakai anak muda yang hitung semua, kita pakai standar dari Perancis, jadinya model ini kita beli. Model yang dari Perancis yang bisa kita jual ke orang lain," tutur Luhut.

Kritik Wapres JK

Sebelum #1km500 miliar menjadi trending topic di Twitter, Wapres JK menilai proyek LRT kurang efisien, berbiaya mahal dan letaknya bersebelahan dengan jalan bebas hambatan.

Dilansir Kompas.com dalam artikel Wapres Kalla Kritik Pembangunan LRT Jabodebek Kurang Efisien, Wapres JK mengkritik tiang LRT yang menjulang tinggi ke arah Bogor.

"Buat apa elevated kalau hanya berada di samping jalan tol?" tanya Wapres JK.

Setahu dia, biasanya LRT tidak dibangun bersebelahan dengan jalan tol dan harus terpisah.

Kritik Wapres JK ini disampaikan di depan anggota Ikatan Nasional Konsultan Indonesia di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

"Tapi bangunnya gitu. Itu kemungkinan, siapa konsultan yang memimpin ini? Sehingga biayanya (mahal) per kilometer. Kapan kembalinya kalau dihitungnya seperti itu?" lanjut Wapres JK.

Ia mengatakan, sedianya tak masalah bila biaya pembangunan LRT Jabodebek yang seharga Rp 264,7 miliar per kilometer itu berada di tengah kota.

Mantan Ketua Umum Golkar ini lantas membandingkannya dengan pembangunan MRT Jakarta yang menurut dia lebih efisien.

Wapres JK mengungkapkan harga pembangunan MRT per kilometernya tidak terpaut jauh dengan LRT, yakni Rp 331 miliar tiap kilometer.

Apalagi, sambung Wapres JK, MRT dibangun di lokasi permukiman dan perkantoran.

Ia mengapresiasi pembangunan MRT lantaran mempertimbangkan manajemen kemacetan.

"Mereka ada spesial konsultan untuk traffic management. Jadi kontraktornya di samping konstruksi sipilnya juga mempunyai konsultan traffic management bagaimana membangun supaya tidak macet dan bersih lagi (pembangunannya)," lanjut dia.

Diketahui, total anggaran proyek LRT Jabodebek adalah sebesar Rp 29,9 triliun.

Proyek ini terdiri dari sarana, prasarana, dan IDC (Interest During Construction).

Pembiayaan proyek dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebesar Rp 25,7 triliun.

Sementara itu, PT Adhi Karya (Persero) Tbk membiayai proyek sebesar Rp 4,2 triliun. (TribunJakarta.com/Kompas.com)

Penulis: yogi gustaman
Editor: Mohamad Afkar Sarvika
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved