Breaking News:

Wali Kota Depok Mengaku Ada Kelengahan Terkait Lonjakan Penderita DBD

Wali Kota Depok Idris Abdul Shomad mengakui adanya kelengahan terkait adanya lonjakan penderita DBD.

TribunJakarta/Bima Putra
Wali Kota Depok M. Idris Abdul Shomad saat ditemui di Balaikota Depok, Senin (19/11/2018) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS - Lonjakan penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dibarengi minimnya Tingkat Angka Bebas Jentik (ABJ) Kota Depok tahun 2019 yang baru mencapai 92,86 persen.

Angka tersebut di bawah standar ABJ yang ditetapkan Kementerian Kesehatan, yakni 95 persen.

Wali Kota Depok Idris Abdul Shomad mengakui adanya kelengahan saat pergantian musim yang membuat nyamuk Aedes Aegypti leluasa berkembang biak hingga menjangkiti 504 warga per Januari 2019.

Menurutnya, baik Pemkot maupun warga Depok melupakan pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang justru paling ampuh memberangus populasi nyamuk.

"ABJ Depok sampai tahun ini baru mencapai 92,86 persen. Memang mungkin kelengahan ya, kelengahan kami (Pemkot) juga. Kelengahan untuk mengajak masyarakat. Ketika sudah terjadi kita baru sadar lagi. Mudah-mudahan ada hikmahnya," kata Idris di Balaikota Depok, Rabu (20/2/2019).

Saat jadi Wakil Wali Kota mendampingi Nur Mahmudi Ismail, Idris menyebut program satu rumah satu Jumantik sudah digalakan di 11 Kecamatan dan 63 Kelurahan yang ada.

Namun program tersebut perjanjian hilang dan baru kembali gencar dibicarakan sekarang ini saat penderita DBD melonjak derastis dibanding jumlah tahun 2018 yang mencapai 892 penderita.

"Jadi untuk rumah bebas jentik ini kita menggalakkan gerakan Satu Rumah Satu Jumantik untuk menumbuhkan kesadaran bersama antara pemerintah sebagai fasilitator dengan masyarakat," ujarnya.

Perihal penanganan pasien DBD, Idris telah mengeluarkan edaran agar seluruh Rumah Sakit harus melayani pasien DBD bagaimana pun caranya.

Bila kamar rawat inap penuh, dia meminta RS mensiasatinya menggunakan kamar lain yang dapat dan layak digunakan jadi tempat rawat inap pasien penderita DBD.

Belum Dipastikan, Dinas Kesehatan Kota Depok Belum Mau Sebut RS Tempat 2 Terduga DBD Meninggal

164 Kasus DBD di Jakarta Selatan Selama Februari, Menurun Dibanding Januari 2019

Merujuk dari pengalamannya sebagai penderita DBD, Idris menyebut DBD merupakan penyakit yang cepat menggerogoti tubuh dan membahayakan nyawa penderita.

"Kalau kamar-kamar sudah penuh, gunakan kamar-kamar yang ada. Sebab ini kalau dibiarkan sangat bahaya. Dia penyakit yang ringan tapi cepat. Kalau tidak cepat ditanganin yang jadi masalah," tuturnya.

Sebagai informasi, di Depok, pada tahun 2016 tercatat 2.827 kasus, tahun 2017 tercatat 535 kasus, tahun 2018 tercatat 892 kasus, dan per Januari 2019 tercatat 504 kasus ditambah dua terduga korban jiwa akibat DBD.

Penulis: Bima Putra
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved