Sekolah Alam Tunas Mulia Bantar Gebang, Mengubah Pemulung Jadi Sarjana
Sekolah Alam Tunas Mulia Bantar Gebang, Kota Bekasi tak ubahnya seperti sinar yang menyala di tengah gunungan sampah.
Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar
TRIBUNJAKARTA.COM, BANTAR GEBANG - Sekolah Alam Tunas Mulia Bantar Gebang, Kota Bekasi tak ubahnya seperti sinar yang menyala di tengah gunungan sampah.
Sekolah tersebut punya misi mulia, mendidik anak-anak pemulung untuk sekolah dan mengubah nasibnya.
Sekolah Alam Tunas Mulia berlokasi Jalan Pangkalan II, Rt 02 Rw 04 Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi.
Mendengar kata Bantar Gebang tentu tidak asing dengan keberadaan Tempat Pengelolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu milik Pemerintah Kota Bekasi.
Lokasi sekolah memang tidak jauh dari kedua tempat pembuangan sampah tersebut. Bahkan, gunungan sampah nampak jelas terlihat di halaman utana Sekolah Alam Tunas Mulia.
Sekolah Alam pertama kali didirikan pada 2004 silam oleh seorang bernama Nadam Dwi Subekti, pria berusia 51 tahun asal Cilacap Jawa Tengah.
Keprihatinnya akan kondisi pendidikan anak-anak pemulung membuatnya tergerak membentuk Sekolah Alam Tunas Mulia yang dulunya disebut Sekolah Bedeng Bantar Gebang (SSB).
Sekolah Alam Tunas Mulia saat ini telah memiliki murid sebanyak 250 siswa, mayoritas siswa merupakan anak-anak pemulung yang setiap hari bekerja mencari nafkah di gunungan sampah tempat pembuangan akhir.
Cawi (40), orang tua murid yang berprofesi sebagai pemulung mengatakan saat ini dua buah hatinya masih mengenyam pendidikan di PAUD Sekolah Alam Tunas Mulia.
Tiga kali dalam seminggu, ia mengantarkan anaknya yang masing-masing berusia enam dan empat tahun.
"Anak saya dua sekolah di sini, masih PAUD, setia Selasa, Kamis, sama Sabtu sekolahnya," kata Cawi.
Cawi sehari-hari bekerja sebagai pemulung bersama suaminya. Jika tidak sedang mengantarkan anak-anaknya sekolah, ia biasa memulung sampah di TPST Bantar Gebang, atau sekedar memilah sampah hasil memulung suaminya.
"Anak saya empat, yang pertama udah kerja di Serang, anak kedua masih SMP sekolah di SMP 27 Bekasi, nah yang dua ini sekolah di sini (Sekolah Alam)," kata Cawi.
Cawi dan suaminya mengaku bukan dari kalangan terdidik, ia hanya lulusan SD, begitu juga dengan anak pertamanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/suasana-belajar-mengajar-siswa-paud-sekolah-alam-tunas-mulia-bantar-gebang-bekasi-2.jpg)