Menguak Wasiat Ibu Korban di Balik Kedekatan Dosen Wahyu Jayadi yang Bunuh Siti Zulaeha

Kematian Siti Zulaeha Djafar, staf Biro Administrasi Umum dan Keuangan Universitas Negeri Makassar, mulai terungkap.

Editor: Y Gustaman
tribun timur
Dosen Wahyu Jayadi Bunuh Rekan kerja Siti Zuleha. Terungkap berkat darah 

Salah satu barang bukti, iPhone X milik Zulaeha dalam kondisi rusak berat.

Ponsel ini sempat dibuang Wahyu Jayadi  di got dekat kampus UNM Makassar, Jalan Andi Pangerang Petta Rani, Makassar, Sulsel.

Meski rusak, barang bukti iPhone X ini diyakini mampu mengungkap sejumlah fakta hasil komunikasi korban dan pelaku.

Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga mengatakan pembunuhan staf kampus Universitas Negeri Makassar bermotif ketersinggungan dan emosi terkendali.

Wahyu Jayadi tersulut emosi ketika sedang berkendara bersama Sitti Zulaeha menggunakan Daihatsu Terios.

Selama perjalanan keduanya terlibat cekcok di mobil.

Wahyu Jayadi naik pitam.

Ia pun mencekik leher Zulaeha hingga nyawanya melayang.

"Motif yang sudah kita identifikasi adalah emosi sesaat WJ yang dilampiaskan dengan kekerasan tidak terkontrol," kata Shinto Silitonga dalam jumpa pers di Mapolres Gowa, Minggu (24/3/2019) petang.

Barang bukti Daihatsu Terios milik Siti Zulaeha Djafar dipasangi garis polisi di Mapolres Gowa, Jalan Syamsuddin Tunru. Satreskrim Polres Gowa masih menyelidiki secara mendalam dugaan Wahyu Jayadi membunuh rekannya, Staf Biro Administrasi Umum, Universitas Negeri Makassar.
Barang bukti Daihatsu Terios milik Siti Zulaeha Djafar dipasangi garis polisi di Mapolres Gowa, Jalan Syamsuddin Tunru. Satreskrim Polres Gowa masih menyelidiki secara mendalam dugaan Wahyu Jayadi membunuh rekannya, Staf Biro Administrasi Umum, Universitas Negeri Makassar. (TRIBUN TIMUR/ARI MARYADI)

Perwira polisi dua melati ini melanjutkan, Wahyu Jayadi merasa tersinggung karena korban dinilai mencampuri urusan pribadinya.

"WJ emosi ketika mengemudi. Ia tersinggung pada gerakan korban maupun perkataan yang disampaikan korban," sambung Shinto Silitonga.

"Pelaku tersinggung pada korban yang mencampuri urusan pribadi pelaku sehingga timbul percekcokan besar," tambah Shinto.

Wahyu Jayadi pun menepikan mobil di Jalan STPP Bontamarannu.

Kemudian ia mencekik leher korban hingga nyawanya melayang.

"Pelaku melakukan penekanan pada batang leher korban dengan tenaga yang luar biasa sehingga tulang leher korban patah dan pernapasan terhambat," tandas Shinto Silitonga.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved