Cinta Aris Sugianto Ditolak Guru Honorer Korban Mutilasi? Ini Ungkapannya di Facebook

Cinta tak sampai, mungkin itu yang ada di benak Aris Sugianto sehingga menghabisi nyawa guru honorer Budi Hartanto sampai memutilasinya.

Penulis: Y Gustaman | Editor: Y Gustaman
Kolase TribunJakarta.com/Facebook
Aris Sugianto (kiri) dan Ajis Prakoso (kanan) ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan guru honorer asal Kediri, Budi Hartanto (insert). 

TRIBUNJAKARTA.COM, SURABAYA - Cinta tak sampai, mungkin itu yang ada di benak Aris Sugianto sehingga menghabisi nyawa guru honorer Budi Hartanto sampai memutilasinya.

Jasad korban tanpa kepala ditemukan di koper yang dibuang di bawah jembatan Karanggondang, Udanawu, Kabupaten Blitar, Rabu (3/4/2019) pagi.

Ada beberapa luka sayatan di lengan dan badan guru kesenian di salah satu sekolah dasar di Kota Kediri yang juga pemilik sanggar tari ini.

Motif asmara di balik kasus pembunuhan ini diungkap penyidik Polda Jawa Timur setelah meminta keterangan sejumlah saksi.

Sebanyak 11 dari 14 saksi yang diperiksa kebanyakan teman-teman pria satu komunitas dengan korban. Kebanyakan mereka melambai.

Selain Aris Sugianto, penyidik turut menetapkan Ajip Prakoso sebagai tersangka kasus pembunuhan disertai mutilasi.

Cinta betepuk sebelah tangan

Aris Sugianto pernah satu kali menyampaikan curahan hatinya melalui Facebook lewat akun Dokter Cinta, seperti penelusuran Surya.

Setidaknya ada 66 video dan puluhan foto di Facebook pelaku yang ditangkap di dalam bus Puspa Jaya saat melintas di Tol Dalam Kota Jakarta tujuan Bandar Lampung pada Jumat pekan lalu.

Aris Sugianto mengunggah video terakhir saat rekannya memanjat untuk memetik buah nangka. Pelaku terlihat menangkap buah nangka berukuran kecil.

Namun, lebih sering Aris Sugianto mengunggah video bakar-bakar ayam di rumah N, ibunya, di Desa Mangunan, Udanawu, Kabupayen Blitar.

Rumah ibu Aris Sugianto hanya berjarak 1,5 kilometer dari temuan jasad Budi Hartanto, tapi masih satu kecamatan.

Akhir-akhir ini Aris kerap kongkow bareng rekan komunitasnya untuk bakar-bakar ayam.

Video lainnya saat Aris mengambil dompet mengeluarkan uang pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu dan mendapat komentar sejumlah rekannya.

Ia terakhir menggunggah fotonya berkaus hitam pada 1 Februari 2019. Sedangkan unggahan awal di akun Dokter Cinta tertanggal 3 Juli 2018.

Pada akun yang sama juga terlihat Aris memakai kaus hitam bertuliskan, "Pejuang Kapusan," kaus ini juga yang dipakainya saat ditangkap polisi di dalam bus Puspa Jaya.

Unggahan Status Aris Sugianto di akun Facebook Dokter Cinta.
Unggahan Status Aris Sugianto di akun Facebook Dokter Cinta. (Istimewa)

Ada juga unggahan video saat ia memberi makan ternak lele dan kambing, termasuk video saat dibesuk sejumlah rekannya saat dirawat inap di salah satu rumah sakit.

Tak ada kontak pertemanan Aris Sugianto dengan Budi Hartanto, korbannya yang dibunuh dan dimutilasi.

Beberapa unggahan statusnya, misalnya pada 27 Oktober 2019>

"Pengecut itu selalu memanfaatkan temannya untuk membantu. One by one itu baru gentlemen. Dasar kau pengecut..."

Status lainnya juga sempat diunggah Aris Sugianto yang beprofesi sebagai penjual nasi goreng itu.

"Loro...atiku loro. Seng ta tresno ora rumomgso (Sakit hatiku sakit yang ku cinta enggak merasa)."

Jejak koper dan pakaian korban

Terungkap teka-teki koper untuk membuang jasad Budi Hartanto dan pakaiannya yang hilang karena saat ditemukan korban telanjang.

Aris Sugianto sempat pulang ke rumah ibunya, lalu meminta maaf.

"Saya baru pulang salat Subuh di masjid. Dia tiba-tiba langsung minta maaf ke saya," cerita N setelah diperiksa di Polres Blitar Kota, Jumat (12/4/2019), seperti dilansir TribunJatim.com.

Di hadapan N, Aris meminta maaf karena telah menjual kopernya seharga Rp 200 ribu untuk modalnya berjualan nasi goreng.

Memang benar, Aris membuka usaha nasi goreng di Desa Sambi, Ringinrejo, Kabupaten Kediri, tak lama membunuh Budi Hartanto.

Rumah salah satu pelaku pembunuhan guru honorer asal Mojoroto, Kota Kediri, di Desa Mangunan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jumat (12/4/2019)
Rumah salah satu pelaku pembunuhan guru honorer asal Mojoroto, Kota Kediri, di Desa Mangunan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jumat (12/4/2019) (surya.co.id/samsul hadi)

"Bu, saya minta maaf kopernya saya jual laku Rp 200 ribu. Saya buat tambahan modal," ujar Aris menggunakan bahasa Jawa seperti ditirukan N.

Sebelum tubuhnya dibuang di Blitar, ponsel Budi Hartanto masih terdeteksi di Kediri sampai pukul 04.00 WIB.

Masih di hari yang sama, N melihat anak kedua dari tiga bersaudara itu membakar pakaian di depan rumah pukul 07.00 WIB.

N tak tahu pakaian siapa yang dibakar Aris, namun muncul dugaan milik Budi Hartanto.

Dua hari kemudian, kabar penemuan mayat tanpa kepala dan busana di bawah jembatan Karanggondang sampai ke telinga N.

Perasaan tak enak menghantui N apalagi setelah diperlihatkan oleh seseorang foto koper yang di dalamnya ada jasad Budi Hartanto.

"Dalam hati saya bilang, 'Itu koper milik saya.' Tapi saya belum sadar soal itu karena anak saya bilang kopernya dijual," lanjut N.

Belakangan ini, diakui N, Aris kerap berkata kasar termasuk kepadanya.

Di rumah N, Aris kerap mengumpulkan teman-teman prianya diduga satu komunitas pria kemayu dan tertawa keras seenaknya.

N tidak tahu apakah teman-teman pria Aris satu di antaranya adalah Ajis Prakoso yang ikut membunuh Budi Hartanto.

Aris Sugianto (kiri) dan Ajis Prakoso (kanan), dua pelaku pembunuhan Budi Hartanto (28), guru honorer Kota Kediri yang tubuhnya dimutilasi, digelandang ke Polda Jatim, Jumat (12/4/2019).
Aris Sugianto (kiri) dan Ajis Prakoso (kanan), dua pelaku pembunuhan Budi Hartanto (28), guru honorer Kota Kediri yang tubuhnya dimutilasi, digelandang ke Polda Jatim, Jumat (12/4/2019). (Surya/Luhur Pambudi)

Asmara korban dan pelaku versi polisi

Polisi mengungkap fakta bahwa korban Budi Hartanto punya hubungan spesial dengan dua pelakunya, yakni Aris dan Ajis.

Dua hari setelah jasad guru seni tari itu ditemukan, polisi menyempitkan motif kasus pembunuhan ini bukan karena faktor ekonomi tapi asmara.

Pertimbangan ini berdasarkan keterangan sejumlah saksi yang menyebut Budi Hartanto bergabung di komunitas pria yang memiliki kecenderungan seksual berbeda.

Polisi jauh hari sudah menduga pelaku pembunuhan disertai mutilasi bukan satu tapi dua orang dan mereka teman atau orang dekat korban.

Kehidupan sosial Budi Hartanto diketahui berdasarkan penurutan 11 dari 14 saksi yang dimintai keterangan dan mereka adalah teman-teman korban.

"Sementara tiga saksi dari Blitar itu yang menemukan jasad korban di lokasi," ungkap Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera, Sabtu (6/4/2019).

Motif asmara di balik kasus ini semakin terungkap dan terang setelah polisi menangkap kedua pelaku.

Aris ditangkap polisi di Tol Dalam Kota Jakarta di dalam bus Puspa Jaya tujuan Bandar Lampung dan Ajip ditangkap di Kediri, sembilan hari pascapenemuan jasad korban.

"Sejak awal pelaku sangat mengenal korban. Keduanya diduga memiliki hubungan spesial dengan korban," ucap Barung di Polda Jatim, Jumat (12/4/2019).

"Kami membaca ada hubungan asmara antara pelaku dan korban," ia menambahkan.

Anggota Patroli Jalan Raya Polda Metro Jaya mencegat bus Puspa Indah yang ditumpangi terduga pelaku pembunuhan disertai mutilasi di Tol Dalam Kota, Jakarta Selatan, Jumat (12/4/2019).
Anggota Patroli Jalan Raya Polda Metro Jaya mencegat bus Puspa Jaya yang ditumpangi Aris Sugianto, terduga pelaku pembunuhan disertai mutilasi di Tol Dalam Kota, Jakarta Selatan, Jumat (12/4/2019). (Dokumentasi PJR Polda Metro Jaya)

Barung enggan membeberkan kisah asmara korban dan dua pelaku Aris dan Ajis.

Namun, ia hanya memastikan Aris dan Ajis merupakan teman dekat Budi Hartanto dalam sebuah komunitas yang sama.

"Bahkan (korban dan 2 pelaku) pernah memiliki hubungan spesifik dengan orientasi pada komunitas tertentu," terang Barung.

Sedikit informasi yang Barung bocorkan, jika korban sering berganti pasangan, "Almarhum banyak pacarnya."

Seperti korban, Aris menurut penurutan warga di dekat rumah orangtuanya, agak kemayu dan diketahui dari cara jalannya. (TribunJakarta.com/Surya/Tribun Jatim)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved