Pilpres 2019

Kalah Perolehan Suara di Jakarta; Ini Analisis 'Poltracking' Sandiaga Gagal Ulang Momen Pilkada DKI

Menurut dia, sejumlah isu miring seperti hak asasi manusia dan Panama Papers juga ikut menggerus suara Prabowo-Sandiaga.

Kalah Perolehan Suara di Jakarta; Ini Analisis 'Poltracking' Sandiaga Gagal Ulang Momen Pilkada DKI
TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Sandiaga Uno dan Ahmad Syaikhu saat kampanye di Lapangan Kobra, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Selasa, (2/4/2019). 

TRIBUNJAKARTA.COM- Hasil hitung cepat atau quick count Pilpres 2019 yang dirilis Poltracking hingga perolehan suara masuk sebesar 99,30 persen menunjukkan pasangan calon presiden dan wakil presiden 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin unggul atas pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di DKI Jakarta.

Hasil quick count sementara menunjukkan, Jokowi-Maruf meraih 50,07 persen suara mengungguli Prabowo-Sandiaga yang memperoleh 49,93 persen suara di ibu kota.

Angka tersebut sangat berbeda dengan perolehan suara Pilkada DKI Jakarta 2017, saat Sandiaga yang berpasangan dengan Anies Baswedan meraup 57,96 persen suara.

Analis Politik Poltracking Institute Agung Baskoro mengatakan, ada sejumlah faktor yang membuat Sandiaga tak bisa mengulangi kemenangannya di Jakarta.

"Di antaranya soal masa jabatan dan janji Sandi di DKI yang belum tuntas dan program-program kampanye Prabowo-Sandi yang belum menjawab tantangan pemilih DKI," kata Agung kepada Kompas.com, Kamis (18/4/2019).

Menurut dia, sejumlah isu miring seperti hak asasi manusia dan Panama Papers juga ikut menggerus suara Prabowo-Sandiaga.

Hal tersebut, lanjut dia, tidak terjadi ketika Jokowi naik dari jabatan gubernur DKI menjadi presiden pada tahun 2014.

"Jokowi unggul karena diuntungkan soal tren baru kepemimpinan nasional, kepala daerah berprestasi," ucapnya.

Saat itu, Jokowi dianggap mempunyai rekam jejak baik setelah menjabat sebagai wali kota Surakarta dan gubernur DKI Jakarta.

Ia menambahkan, konteks politik lima tahun silam juga berbeda karena saat itu Susilo Bambang Yudhoyono sebagai petahana tidak bisa mencalonkan diri lagi pada Pilpres.

VIDEO Suasana Simulasi H-2 Lomba Catur Antar Kelurahan di Wilayah Kecamatan Senen Jakarta Pusat

Cerita PPS Saat Pemilu: Siapkan Logistik di TPS, Cek Data Hingga Kurang Tidur Berhari-Hari

Sneakerpeak Kemang The Fifth Tawarkan Sepatu dengan Harga Mulai dari Rp 500 Ribu

"Konteks politik di 2014 dimana incumbent SBY yang tidak bisa maju dan publik sedang mencari sosok baru sebagai antitesis atau bahkan sintesis kepemimpinan lama," ujar Agung.

Adapun, hasil resmi rekapituliasi suara Pemilu 2014 menunjukkan Jokowi meraih suara terbanyak di provinsi DKI Jakarta.

Saat itu, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla mendapat 53,08 persen suara. Sementara itu, Prabowo yang berduet dengan Hatta Rajasa memperoleh 46,92 persen suara. (Ardito Ramadhan)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Quick Count" Poltracking, Sandiaga Gagal Ulangi Kemenangan di Jakarta, Ini Alasannya...

Editor: Erik Sinaga
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved