Jabodetabek Banjir

Pakar Perkotaan ITB: Konversi Lahan Basah Jadi Area Perkotaan Membuat Luapan Air Meningkat

Jehan, sapannya, mengatakan bahwa hutan bakau, rawa-rawa, dan persawahan sudah hampir berkurang di Jakarta.

Pakar Perkotaan ITB: Konversi Lahan Basah Jadi Area Perkotaan Membuat Luapan Air Meningkat
TRIBUNJAKARTA.COM/MUHAMMAD RIZKI HIDAYAT
Jehansyah Siregar selaku Pakar Arsitektur Perkotaan Institut Teknologi Bandung (ITB), sedang memberi keterangan kepada awak wartawan, di Omah Cafe, Gedung Joang, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Jumat (3/5/2019). 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Muhammad Rizki Hidayat

TRIBUNJAKARTA.COM, MENTENG - Jehansyah Siregar selaku Pakar Arsitektur Perkotaan Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan lahan resapan air di Jakarta mulai habis.

Jehan, sapannya, mengatakan bahwa hutan bakau, rawa-rawa, dan persawahan sudah hampir berkurang di Jakarta.

Menurutnya, hal itu yang membuat DKI Jakarta selalu terjadi banjir setiap tahun.

"Lahan-lahan berupa rawa, hutan bakau, mau pun persawahan, telah diurug untuk dibangun pemukiman, pabrik, dan pergudangan," kata Jehan, di Omah Cafe, Gedung Joang, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Jumat (3/5/2019).

"Lahan-lahan basah di sepanjang bantaran sungai dan sekitar situ-situ juga terus diduduki dan dibangun pemukiman. Baik formal maupun informal," lanjutnya.

Tangani Banjir Jakarta, Anies dan Ahok Diminta Politikus Gerindra Duduk Bareng Berbagi Pengalaman

Salah satunya lagi, kata Jehan, disebabkan oleh perubahan morfologi kota yang sudah terakumulasi dalam kurun waktu yang lama sekali.

"Di banyak lokasi terutama di Jakarta Barat dan Jakarta Utara," ujar Jehan.

"Konversi lahan basah yang semula berfungsi sebagai area retensi air kini menjadi area perkotaan. Ini juga dibiarkan terus menjadi selama berpuluh tahun dan mengakibatkan luapan air yang semakin meningkat setiap musim hujan tiba," jelas Jehan.

Dari sisi penataan ruang, lanjutnya, produk-produk untuk mengurangi banjir di Jakarta sudah gagal.

"Mulai rencana induk 1965-1985 hingga RT RW 2030, adalah produk-produk gagal karena sangat lemah di dalam prakteknya," tegas Jehan sambil memegang mik.

"Sebelum mau pun sesudah rencana-rencana tersebut ditetapkan, selalu masuk angin karena telah dipenuhi kepentingan bisnis properti dan tidak disusun berlandaskan akar masalah," sambungnya.

Seharusnya, kata Jehan, tujuan pembangunan ini mesti mementingkan publik.

"Dan seharusnya, tujuan pembangunan Jakarta secara objektif ini ya untuk kepentingan publik. Bukan kepentingan pribadi," katanya.

Penulis: Muhammad Rizki Hidayat
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved