Ramadan 2019
Menelisik Makam Keramat Mangga Dua di Pusat Niaga Ibukota
Selama ini Mangga Dua selalu identik dengan kawasan pecinan dan pusat niaga Namun, siapa sangka di sana ada jejak seorang ulama asal Timur Tengah.
Penulis: Dionisius Arya Bima Suci | Editor: Satrio Sarwo Trengginas
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci
TRIBUNJAKARTA.COM, SAWAH BESAR - Selama ini Mangga Dua selalu identik dengan kawasan pecinan dan pusat niaga yang mana di wilayah tersebut banyak berdiri pusat perbelanjaan, ruko, serta hotel-hotel yang menjulang tinggi.
Namun, siapa sangka di sana ada jejak seorang ulama asal Timur Tengah yang turut berjasa menyebarkan agama Islam di nusantara.
Ya ulama tersebut ialah Sayyid Abubakar bin Alwi Bahsan Jamalullail.
Di wilayah itu terdapat makamnya yang biasa disebut warga sebagai 'Makam Keramat Mangga Dua'.
Menurut cerita, ia merupakan keturunan dari Husei bin Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah dari putrinya Fattimah Azzahra.
TribunJakarta.com pun berkesempatan mengunjungi makam keramat yang berada di dalam area Masjid Nurul Abrar tersebut.
• VIDEO Berkunjung ke Makam Tokoh Muslim Termasyhur Habib Ali bin Abdurrahman di Kwitang
• Meski Dituakan, Warga Condet Jaga Kesederhanaan 3 Makam Ini
• Menengok Makam Ki Tua di Bantaran Ciliwung dan Disebut Makam Tertua di Condet
• Cucu KH Syafii Hadzami Mengaku Bangga Makam Kakeknya Ramai Peziarah
Letaknya berada di Jalan Mangga Dua Dalam No. 17, RT 01/05, Mangga Dua Selatan, Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Bangunan ini memiliki luas total sekira 3.000 meter persegi dan berada tepat di samping Hotel La Grandeur.
Saat mengunjungi masjid tua dan makan keramat tersebut, TribunJakarta.com pun disambut oleh seorang pria paruh baya yang saat itu tampak mengenakan baju koko berkelir putih.
Namanya Masagus Hamdi (53), ia merupakan pengurus masjid sekaligus keturunan dari Syekh Abubakar.
Sambil menunggu salat asar, ia pun bersedia menemani TribunJakarta.com berkeliling di masjid yang telah berdiri sejak tahun 1841.
Ia menuturkan, dulu bangunan tersebut merupakan rumah milik pejabat Belanda yang berhasil direbut oleh Syekh Abubakar.
"Awalnya ini adalah rumah milik kompeni Belanda, kemudian berhasil direbut Syekh Abubakar dan dijadikan masjid," ucapnya kepada TribunJakarta.com, Selasa (7/5/2019).
Hamdi mengatakan, bangunan ini masih menyisakan mimbar asli yang saat ini sudah tidak digunakan lagi dan empat buah pilar yang memiliki diameter cukup besar dan tampak kokoh di depannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/suana-di-dalam-masjid-nurul-abrar-dan-makam-sayyid-abubakar.jpg)