Pilpres 2019

Ferdinand Hutahaean Tegaskan Sikap Tak Lagi Dukung Prabowo Picu Reaksi BPN Hingga Sandiaga Uno

Politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menegaskan sikapnya tak lagi mendukung pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Penulis: Ferdinand Waskita | Editor: Erik Sinaga
TRIBUNJAKARTA.COM/DIONSIUS ARYA BIMA SUCI
Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean saat ditemui awak media sebelum meninggalkan Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Sabtu (13/4/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-- Politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutatahean menegaskan sikapnya tak lagi mendukung pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Hal itu dipicu sikap buzzer pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang menyinggung istri Ketum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Ani Yudhoyono.

Reaksi Ferdinand Hutahaean itu memicu reaksi Sandiaga Uno, Sekjen Demokrat Hinca Pandjaitan hingga Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Sikap Ferdinand Hutahaean

Politikus Demokrat, Ferdinand Hutahaean, sedang membonceng seorang pengendara bermotor menerobos jalan persawahan di Desa Pancawati, Kabupaten Bogor.
Politikus Demokrat, Ferdinand Hutahaean, sedang membonceng seorang pengendara bermotor menerobos jalan persawahan di Desa Pancawati, Kabupaten Bogor. (Tangkapan layar Twitter @Ferdinand_Haean)

Ferdinand Hutahaean tidak lagi mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Sikap saya itu tetap! Tidak lagi mendukung di dalam lembaga BPN. Itu sikap saya tidak berubah," tegas Ferdinand Hutahaean menanggapi Direktur Advokasi dan Hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Sufmi Dasco Ahmad.

Ferdinand mengakui terlalu emosional ketika para buzzer pendukung Prabowo-Sandi menyerang Ani Yudhoyono, istri Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono di media sosial.

"Memang kemarin (Minggu 20/5/2019)-red) saya emosi, ketika bu Ani dijadikan bahan olok-olok oleh kawan-kawan buzzer yang selama berada di 02," ucap Ferdinand Hutahaean.

Ferdinand Hutahaean mengungkapkan kekecewaannya yang luar biasa terhadap para pendukung Prabowo-Sandi yang mengolok-olok mantan Ibu Negara yang sedang menderita sakit.

"Memang emosi saya! Tidak sepatutnya dan sepantasnya ibu Ani yang sedang sakit diperlakukan seperti itu," tegas Ferdinand Hutahaean.

Bagi dia, olok-olokan terhadap isteri dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu merupakan bentuk penghinakan yang luar biasa merendahkan dirinya dan Partai Demokrat.

"Bagi kami, ibu Ani itu adalah lebih dari sekedar hubungan struktural partai. Tapi beliau adalah ibu bagi kami semua," jelasnya.

Karena itu, tegas dia, Partai Demokrat marah, ketika ibunda dari Komandan Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) direndahkan.

"Ibu kami diganggu, pasti kami akan keluar untuk membela bu Ani," tegas Ferdinand Hutahaean.

Reaksi Partai Demokrat

Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan
Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan (Tribunnews.com/Herudin)

Sekretaris Jenderal Demokrat Hinca Pandjaitan menegaskan keberadaan partai Demokrat di dalam koalisi Adil dan Makmur hanya sampai pada pengumuman pemenang Pemilu, 22 Mei 2019.

"Dukungan paslon ini atau koalisi ini sebagai capres tahap tahapannya itu berhenti di 22 Mei," ujar Hinca di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, (20/5/2019),

Menurutnya hal tersebut sama seperti pertandingan Sepakbola. Saat wasit meniup tanda pertandingan usai 2X45 menit, maka semua pemain kembalikekamar ganti dan kembali berdiskusi. Begitu juga dengan koalisi, keberadaan Demokrat di Koalisi Adil dan Makmur akan kembali didiskusikan setelah 22 Mei.

"Tapi sampai hari ini kita konsisten sampai situ apa yang terjadi setelah 22 Mei tentu partai-partai akan berdiskusi lagi bagaimana Apa yang harus dilakukan," katanya.

Hanya saja Hinca tidak menjelaskan apa langkah Demokrat setelah 22 Mei nanti, termasuk kemungkinan bergabung dengan kubu Jokowi. Menurutnya saat ini pertandingan belum usai.

Ketua DPP Demokrat Tak Nyaman di BPN

Jansen Sitidaon
Jansen Sitidaon (Tribunnews.com)

Ketua DPP Partai Demokrat yang juga anggota Badan Pemenangan Prabowo Sandiaga, Jansen Sitindaon, mengaku sudah tidak nyaman lagi berada di barisan pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Ia mengatakan, sikap ini merupakan sikap pribadinya, bukan secara organisasi partai.

"Kalau ditanya sikap pribadi saya sebagai kader, saya sungguh sudah tidak nyaman dengan keadaan ini. Dan saya pribadi akan pamit baik-baik mundur dari barisan Pak Prabowo ini," kata Jansen ketika dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (19/5/2019) malam.

Pernyataan Jansen dipicu perdebatannya di Twitter dengan netizen pada Minggu kemarin.

Jansen menanggapi twit sejumlah netizen yang menyudutkan Ani Yudhoyono, istri Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

Saat ini, Ani tengah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit National University Hospital, Singapura, karena sakit kanker darah. Sudah tiga bulan terakhir ini Ani dirawat di sana.

Selama masa pengobatan itu, SBY selalu menemani Ani dan tidak bisa fokus membantu pemenangan Prabowo-Sandiaga di Indonesia.

Di Twitter, sejumlah netizen menyebut sakit yang diderita Ani Yudhoyono hanya sebuah modus atau pura-pura. Serangan terhadap Ani tidak lepas dari serangan terhadap Demokrat akhir-akhir ini.

Pendukung Prabowo-Sandiaga menuduh Demokrat ingin bergabung bersama Jokowi.

Menanggapi hal itu, Jansen menegaskan Ani betul-betul sedang sakit.

"Bukan bohongan seperti tuduhan buzzer di media sosial Twitter ya," kata dia.

Jansen mengatakan, Prabowo sendiri sudah pernah menjenguk langsung ke Singapura.

Banyak tokoh lain yang juga menjenguk Ani. Bahkan, foto-foto perawatan mantan ibu negara itu juga banyak dibagikan di media sosial.

Oleh karena itu, dia menilai para buzzer itu sudah keterlaluan jika sampai menyudutkan Ani Yudhoyono.

"Mungkin kalau hanya menyerang kami kader-kader Demokrat, masih bisalah kami menerimanya. Silakan serang kami sekeras mungkin. Tetapi ini sudah menyerang Ibu Ani, sudah tidak pantas dan beradab," kata Jansen.

Menurut Jansen, hal ini sama saja tidak menghargai perjuangan Demokrat yang telah ikut memperjuangkan Prabowo-Sandiaga.

Dia menegaskan, hal ini telah melukai hati para kader. Jansen pun tidak menampik bahwa kejadian ini bisa memengaruhi kondisi koalisi dengan Prabowo-Sandiaga.

"Situasi ini jelas menjadi bahan pertimbangan kami apakah kami masih pantas terus berada di koalisi Prabowo ini atau segera mundur saja dari koalisi ini. Tapi terkait ini biarlah nanti institusi partai yang secara resmi memutuskan ya. Ada ketua umum di situ, sekjen dan majelis tinggi partai," kata dia.

BPN Harap Ferdinand Cuma Hanya Emosi Sesaat

Direktur Advokasi BPN Prabowo-Sandi Safmi Dasco Ahmad saat ditemui awak media di depan Gedung Bawaslu seusai demo, Jumat (10/5/2019).
Attachments area
Direktur Advokasi BPN Prabowo-Sandi Safmi Dasco Ahmad saat ditemui awak media di depan Gedung Bawaslu seusai demo, Jumat (10/5/2019). Attachments area (TribunJakarta/Dionisius Arya Bima Suci)

Direktur Advokasi dan Hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Sufmi Dasco Ahmad, menilai pernyataan politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean yang berhenti mendukung Prabowo-Sandi hanya emosi sesaat.

"Saya yakin itu hanya emosi sesaat. Saya kenal Bung Ferdinand orangnya baik kok," kata Dasco saat dihubungi, Senin (20/5/2019).

Menurut Dasco, Ferdinand yang merupakan rekannya di Direktorat Advokasi dan Hukum BPN, mengeluarkan pernyataan tersebut karena kecintaannya kepada Ani Yudhoyono.

Ferdinand tak terima karena Ani ikut dirundung oleh buzzer di media sosial.

Kendati demikian, Dasco menegaskan buzzer yang merundung istri dari Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudoyono itu tak ada hubungannya dengan BPN Prabowo-Sandi.

"Mudah-mudahan Bung Ferdinand cuma emosi sesaat, karena kami sangat tahu kecintaan Bung Ferdinand ini kepada Bu Ani sangat besar.

Sehingga pada saat dia membaca itu kemudian timbul emosi dan lalu membuat statemen seperti itu," kata Dasco.

Dasco pun berharap sikap Ferdinand ini tak membuat hubungan Demokrat dengan koalisi Prabowo-Sandi merenggang.

Politisi Gerindra itu mengatakan, di semua partai, semua keputusan strategis tidak hanya diputuskan oleh satu orang, melainkan melalui mekanisme rapat khusus yang menghasilkan keputusan resmi.

Dasco mencontohkan keputusan Demokrat saat mendukung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019.

"Mudah-mudahan dengan komunikasi yang baik, permasalahan antara Partai Demokrat dan Partai Gerindra akan dapat segera berakhir dan semua kembali dalam keadaan damai seperti kawan sesama koalisi," kata Dasco.

Sebelumnya, Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengeluarkan pernyataan keras melalui akun Twitter-nya.

Dia mengaku berhenti mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Ingatkan Sandiaga Uno Soal Hasil Penghitungan Suara, Ruhut Sitompul: Masih Ingin Kan Maju 2024?

Berhenti Dukung Prabowo-Sandiaga, Ferdinand Hutahaean Singgung Buzzer Setan Gundul

Unggul di Sulsel, Saksi BPN Prabowo-Sandiaga Tolak Tanda Tangan Rekapitulasi Suara

Penyalur Baby Sitter Ini Jadi Langganan Artis dan Pejabat Mulai dari Caca Tengker Hingga Sandiaga

Sandiaga Kritik Tim Hukum Nasional, Prabowo Berapi-api: Amien Rais Tidak Makar, Kita Bela Negara

Alasannya, karena Ani Yudhoyono, istri Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dirundung di media sosial.

Ini isi tulisan Ferdinand, pada Minggu (19/5/2019): "Pagi ini, sy menemukan bullyan yg sgt tdk berperi kemanusiaan dr buzzer setan gundul yg mengolok Ibunda Ani yg sedang sakit. Sikap itu sangat BRUTAL. Atas perilaku brutal buzzer setan gundul itu, saya FERDINAND HUTAHAEAN, saat ini menyatakan BERHENTI MENDUKUNG PRABOWO SANDI."

Ketika dikonfirmasi, Ferdinand mengakui pernyataannya itu.

Dia tidak terima Ani Yudhoyono diserang oleh para pendukung Prabowo-Sandiaga di media sosial. Ani disebut tidak benar-benar sakit.

Ferdinand mengaku juga akan mengusulkan kepada partai untuk keluar dari Koalisi Indonesia Adil dan Makmur.

Kendati demikian, Sekjen Partai Demokrat Hinca Pandjaitan menegaskan partainya akan tetap bersama Prabowo-Sandi hingga pengumuman hasil pemilu oleh KPU pada 22 Mei mendatang

Respon Sandiaga Uno

Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno meninjau jalannya proses rekapitulasi suara Pemilu 2019 di Kantor Kecamatan Penjaringan, Selasa (23/4/2019) sore.
Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno meninjau jalannya proses rekapitulasi suara Pemilu 2019 di Kantor Kecamatan Penjaringan, Selasa (23/4/2019) sore. (TribunJakarta/Gerald Leonardo Agustino)

Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno mengapresiasi langkah politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean yang secara pribadi hendak keluar dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Ia pun mengucapkan terimakasih kepada Ferfinand karena telah banyak membantu ia dan Prabowo Subianto selama masa kampanye.

"Jika beliau menyatakan mundur kami apresiasi sekali. Kami hormati keputusan tersebut. Saya belum kontak langsung karena nomornya sempat di hack. Saya doakan dan ucapan terima kasih Pak Ferdinand banyak memberikan masukan kepada saya dan Pak Prabowo selama 8 bulan ini. Saya ucapkan terima kasih," kata Sandiaga usai meninjau pelatihan kewirausahaan & pameran produk OK OCE Melawai, di Mal Pelayanan Publik DKI Jakarta seperti dikutip dari Kompas.com, Senin (20/5/2019).

Ferdinand sebelumnya menyatakan berhenti mendukung Prabowo-Sandi karena ulah buzzer yang melakukan perundungan terhadap Ani Yudhoyono, istri dari Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudoyono.

Sandiaga mengaku ia turut prihatin atas kondisi Ani yang saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit di Singapura. Namun, ia mengaku tak bisa berkomentar soal marahnya Ferdinand atas ulah warganet.

"Seperti saya sampaikan kita sebagai bangsa mendoakan Bu Ani Yudhoyono. Ibu negara kita. Cepat pulih segera sembuh. Kita sangat berdoa di bulan suci ramadhan, berdoa kesehatan beliau. Kami setiap habis solat doa. Tapi sakit hati Pak Ferdinand atas komentar netizen, saya enggak bisa berkomentar," kata Sandiaga.

Sandiaga menegaskan bahwa ia dan Prabowo selalu meminta para pendukungnya tidak boleh mengeluarkan komentar-komentar nyinyir di media sosial. Oleh karena itu, jika memang ada pendukungnya yang merundung Ani Yudhoyono, maka hal itu tak sesuai dengan spirit Prabowo-Sandi.

"Spirit kita adalah saling mendoakan, saling mengharapkan yang terbaik untuk Bu Ani Yudhoyono," ujarnya.

Sandiaga pun meyakini bahwa Partai Demokrat akan tetap bersama koalisi Adil Makmur terlepas dari sikap pribadi elitenya yang menyatakan telah menarik dukungan.

"Per hari ini demokrat masih solid di koalisi Indonesia-Adil makmur," kata dia.

Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean mengeluarkan pernyataan keras melalui akun Twitter-nya.

Dia mengaku berhenti mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Alasannya, karena Ani Yudhoyono, istri Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dirundung di media sosial. (*)
 (Tribunnews.com/Kompas.com)

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved