Ramadan 2019
Kisah Didin, Petani yang Jadi Kuli Panggul dan Penghias Parcel Musiman Saat Ramadan
Setiap tahunnya, Didin mengadu nasib di Jakarta saat sejak dua bulan sebelum bulan Ramadan hingga menjelang Idul Fitri.
Penulis: Anisa Kurniasih | Editor: Satrio Sarwo Trengginas
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Anisa Kurniasih
TRIBUNJAKARTA.COM, CIKINI - "Jadi kuli panggung di Tanah Abang dari pagi sampai sore, setelah itu kerja paruh waktu maketin parcel di Cikini, semua demi keluarga di kampung," begitulah curahan hati Didin, seorang pria asal Tasikmalaya yang datang ke Jakarta saat Ramadan tiba.
Menjadi pekerja musiman saat musim Lebaran datang telah ia lakoni sejak delapan tahun lalu.
Setiap tahunnya, Didin mengadu nasib di Jakarta saat sejak dua bulan sebelum bulan Ramadan hingga menjelang Idul Fitri.
Tak tanggung-tanggung, ia melakoni dua pekerjaan sekaligus yaitu menjadi seorang porter atau kuli panggul di Tanah Abang dan karyawan di toko parcel di Cikini.
Dalam sehari, ia pun membagi waktu kerjanya dari Senin sampai Jumat untuk mengais rezeki di Tanah Abang sejak pagi hingga sore.
Setelah itu ia melanjutkan aktifitasnya untuk membungkus parcel pesanan pelanggan di Cikini hingga malam bahkan dini hari.
• Pedagang Prediksi Pesanan Parcel di Cikini Ramai Saat H-10 Lebaran
• Cerita Pekerja Lepas Pembungkus Parcel di Cikini, Cuma Tidur Tiga Jam Sehari
• Jelang Bulan Ramadan, Bahan Kebutuhan Pokok di Pasar Cikini Merangkak Naik
"Memang sudah harus dijalani dan saya harus semangat demi keluarga di kampung, biar bisa Lebaran juga, beli baju baru dan urusan dapur," ujarnya dengan penuh ketulusan.
Didin pun bercerita bahwa ia nekad melakoni pekerjaannya demi mendapatkan bayaran yang cukup apalagi di momen menjelang puasa.
Menurutnya, sebulan menjelang Ramadan menjadi waktu yang paling ramai didatangi pengunjung dari penjuru daerah sehingga ia pun mampu memanggul paketan barang hingga 30 kali bolak-balik ke ekspedisi.
"Ramainya itu justru sebulan sebelum puasa, grosiran dari daerah datang ke Tanah Abang untuk berbelanja sehingga kadang saya kewalahan," kata dia lagi.
Soal upah sebagai porter, Didin tak pernah mematok harga pasti, ia hanya mengandalkan keikhlasan dari toko atau orang-orang yang membutuhkan jasanya.
Dari mulai dibayar dengan jumlah kecil hingga bayaran yang layak selalu ia syukuri.
"Tergantung mereka mau kasih berapa, biasanya per karung itu Rp 30 ribu mereka kasih, tapi ada juga yang lebih sedikit tapi mau gimana lagi ya saya terima saja," imbuhnya.
Rute yang ia lalui selama menjadi porter yaitu dari kawasan blok A, blok B, Blok F dan Metro Tanah Abang hingga ke tempat ekspedisi yang berlokasi di Jalan Kebon Kacang bahkan hingga Thamrin City.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/didin-pria-asal-tasikmalaya-yang-menjadi-pekerja-musiman-sebagai-porter-di-tanah-abang.jpg)