Tak Lagi Aktif di KPK, Abdullah Hehamahua Sempat Jadi Rektor STIE di Sumatera Selatan

Nama Abdullah Hehamahua (70) mungkin tak asing ditelinga kita. usai pensiun dan keluar dari KPK, ia menjadi rektor di Sumatera Selatan.

Tak Lagi Aktif di KPK, Abdullah Hehamahua Sempat Jadi Rektor STIE di Sumatera Selatan
TribunJakarta.com/Dionisius Arya Bima Suci
Koordinator aksi sekaligus mantan penasihat KPK Abdullah Hehamahua saat ditemui awak media di kawasan patung kuda, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (18/6/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Nama Abdullah Hehamahua (70) mungkin tak asing ditelinga kita.

Selain pernah menjabat sebagai penasihat di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pria tersebut juga sempat dicalonkan menjadi pemimpin lembaga tersebut.

Namun, usai pensiun dan keluar dari KPK, sepak terjang pria yang dikenal sangat sedernah ini tak lagi terdengar.

Namanya kembali mencuat, saat dirinya memimpin ratusan massa dari berbagai elemen untuk menggelar aksi di kawasan patung kuda, Gambir, Jakarta Pusat.

Saat ditemui TribunJakarta.com usai aksi massa di kawasan patung kuda, mantan Ketua Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) ini mengaku kembali mengajar usai melepas jabatannya di KPK.

"Saya dosen, habitat saya dosen jadi setelah pensiun dari KPK saya kembali ke habitat saya sebagai dosen," ucapnya, Selasa (18/6/2019).

Ia bercerita, sempat menjadi rektor di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Musirawas Lubuklinggau (Mura), Sumatera Selatan.

Profesinya sebagai akademisi ini jugalah yang mendorongnya kini terjun langsung memimpin aksi massa mengawal sidang sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK).

Terlebih, ia pernah menulis dalam salah satu bukunya, saat ini Indonesia dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

"Dalam salah satu buku saya, saya menulis bila kondisi seperti ini terus maka Indonesia bisa dalam keadaan bahaya," ujarnya.

Bentuk Timsus Kasus Perampokan Bos Toko Emas, Kapolda Sumsel: Pelakunya Akan Saya Sikat

Dua Pembunuh Calon Pendeta di Pelosok Sumsel Tertangkap, Bocah Saksi Kunci Masih Trauma

Tak hanya itu, ia menyebut, kini ada fenomena pelacuran intelektual dimana 86 persen tangkapan KPK dari rentang waktu 2005 hingga saat ini merupakan seorang sarjana.

"Saya lihat ada pelacuran intelektual yang luar biasa, dari 800 yang ditangkap KPK dari 2005 sampai sekarang, itu 86 persen sarjana," kata Abdullah Hehamahua.

"Jadi saya tidak mau terjadi pelacuran intelektual, untuk itu saya tampil dan datang," tambahnya.

Penulis: Dionisius Arya Bima Suci
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved