Dinas Pendidikan Minta Sekolah di DKI yang Tak Punya Guru Tangani Anak Berkebutuhan Khusus Melapor

Ratiyono menjelaskan bahwa guru yang menangani ABK merupakan tenaga pengajar biasa, namun telah digembleng agar cara mengajarnya mampu diterima ABK.

Dinas Pendidikan Minta Sekolah di DKI yang Tak Punya Guru Tangani Anak Berkebutuhan Khusus Melapor
TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana
Kadisdik DKI Jakarta Ratiyono, di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (8/5/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, DUREN SAWIT - Jalur inklusi bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 mengharuskan sekolah menerima orang tua yang mendaftarkan anaknya lewat jalur ini.

Pun belum semua sekolah di wilayah Provinsi DKI Jakarta memiliki tenaga pengajar yang mumpuni mengajar ABK sesuai dengan 'kebutuhan' masing-masing anak tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Ratiyono menyatakan aturan menerima pendaftar inklusi di PPDB 2019 ini tetap berlaku meski sekolah belum memiliki tenaga pengajar.

"Harus diterima, enggak boleh enggak. Nanti kalau enggak bisa menangani bisa laporan ke Dinas Pendidikan. Harus diterima, mengenai nanti gurunya perlu dilatih lapor kepada dinas," kata Ratiyono di Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (21/6/2019).

Ratiyono menjelaskan bahwa guru yang menangani ABK merupakan tenaga pengajar biasa, namun telah digembleng agar cara mengajarnya mampu diterima ABK.

Dia meminta pihak sekolah yang kedapatan pendaftar lewat jalur inklusi namun belum memiliki tenaga pengajar yang sesuai segera melapor ke Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Amsor Penumpang Serang Sopir Bus Sebabkan Kecelakaan Maut di Tol Cipali Dijerat Pasal Pembunuhan

"Pelatihannya lama, tapi sambil jalan kan bisa. Gurunya biasa, hanya dibekali keterampilan untuk lebih sabar, bisa mengakomodir kebutuhan anak. Jadi semuanya berproses," ujarnya.

Di Jakarta Timur, satu sekolah yang pendaftaran jalur inklusinya kosong hingga ditutup pada tanggal 13 Juni lalu yakni SMPN 255 Jakarta.

Meski tanpa pendaftar, Wakil Kepala SMPN 255 Jakarta Tumeri mengaku kedatangan sejumlah orang tua ABK yang hendak mendaftarkan anaknya.

"Bukan kami tidak menerima, tapi kami berikan pengertian coba pilih sekolah yang ada guru inklusinya agar bisa ditangani dengan baik. Bukan berarti kami menolak, hanya memberikan gambaran saja karena memang harus ditangani secara khusus," tutur Tumeri, Rabu (19/6/2019).

Tumeri mengaku khawatir tak dapat menangani anak berkebutuhan khusus dengan baik sehingga akhirnya merekomendasikan orang tua mendaftar ke sekolah lain.

Setelah mendapat penjelasan dan rekomendasi, sampai akhirnya tenggat pendaftaran jalur inklusi ditutup tak ada orang tua yang mendaftarkan anaknya.

"Biasa kami mengarahkan ke sekolah-sekolah yang tahun lalu menerima peserta didik yang ada inklusinya. Seperti SMP 139 dan 129," ujarnya.

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved