PPDB 2019

Sistem Zonasi Dianggap Tak Adil, Orangtua Datangi SMAN 14 Tangerang

Banyak warga Batuceper dan sekitarnya tak dapat kesempatan bersekolah di SMAN 14 Tangerang lantaran tidak terbagi kuota dan zonasi sekolah.

Sistem Zonasi Dianggap Tak Adil, Orangtua Datangi SMAN 14 Tangerang
TribunJakarta.com/Ega Alfreda
Orangtua murid berdiskusi dengan Musoleh, Kepala SMAN 14 Tangerang, soal sistem zonasi pada PPDB 2019, Jumat (28/6/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, BATUCEPER - Sistem zonasi penerimaan Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 di Kota Tangerang menuai kontroversi.

Banyak warga Batuceper dan sekitarnya tak dapat kesempatan bersekolah di SMAN 14 Tangerang lantaran tidak terbagi kuota dan zonasi sekolah.

Padahal, tak sedikit di antara calon siswa tersebut mempunyai prestasi bagus namun tidak diterima lantaran terhalang zonasi.

Pantauan TribunJakarta.com di SMAN 14, Jumat (28/6/2019), belasan orangtua murid berdiskusi dengan Kepala SMAN 14, Musoleh, untuk menyampaikan aspirasi.

"Instruksi Gubernur Banten saya laksanakan. Instruksi Sekda dan Kadis saya laksanakan, hanya memang jangan paksa saya untuk tampung semua karena enggak muat," ujar Musoleh kepada orangtua murid.

Musoleh mengatakan orangtua calon murid di kawasan Batuceper, Kota Tangerang, tetap memaksa memasukkan anaknya ke SMAN 14 walau terbentur zonasi.

Namun, Musoleh merasa tidak mempunyai kewenangan untuk mengubah dan memaksakan apa yang sudah ditetapkan oleh pemerintahan pusat.

Menurut dia ada jalan lain yang dapat ditempuh orangtua murid, yakni melalui jalur tidak mampu dengan melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

Berdasar Peraturan Menteri Nomor 51 berbunyi sistem zonasi ini penerimaan 90 persen dari zonasi dan 20 persen di dalamnya termasuk orang tidak mampu.

"Artinya 20 persen wajib diterima, orang dalam zonasi yang miskin. Jadi walau pun agak jauh kalau dia pakai SKTM diterimanya tinggi, kemungkinan besar dan bahkan bisa saya jamin 98 persen diterima," jelas Musoleh.

Dijelaskan Musoleh, masalah terbesar SMAN 14 Tangerang dalam PPDB 2019 karena diperebutkan oleh murid yang tinggal di Kecamatan Benda dan Batuceper.

Musoleh mengatakan terdapat ribuan pendaftar terhitung sejak 22 Juni sedangkan di SMAN 14 hanya dapat menampung delapan kelas.

"Kapasitas saya seluruhnya cuma 27 kelas. Kelas 1, 2 dan 3, yang keluar kemarin delapan kelas. Maka saya hanya bisa menampung delapan kelas. Walau pun boleh sampai 12, tapi untuk sampai 12 kan saya harus ada kelas, kalau di laboratorium kan kasihan," papar dia.

Penulis: Ega Alfreda
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved