Surjana Gantungkan Hidup dari Jual Cacing dan Lumut di Jalan Akses Marunda

Surjana sudah berjualan sejak pukul 06.00 pagi tadi, puluhan gelas dan kaleng disiapkannya untuk wadah lumut dan cacing.

Tayang:
Penulis: Afriyani Garnis | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Afriyani Garnis
Surjana (59) pedagang  yang menggantungkan hidupnya dari berjualan cacing dan lumut di Jalan Akses Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, saat ditemui Kamis (11/7/2019) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Afriyani Garnis

TRIBUNJAKARTA.COM, CILINCING- Surjana (59) merupakan ayah lima anak yang mengais rejeki menjual cacing dan lumut untuk umpan memacing.

Pria 59 tahun itu berjualan di atas trotoar Jalan Akses Marunda tak jauh dari flyover menuju Rumah Si Pitung dan kawasan Bulak Turi, Marunda, Jakarta Utara.

Kepulan debu dijalanan itu dan panasnya matahari tak dikeluhkannya.

Tentu saja, jika tidak dia yang mencari, siapa lagi yang akan memenuhi kebutuhan keluarganya.

"Kebetulan hanya saya saja yang bekerja, istri jaga anak dirumah," kata Surjana saat ditemui, Kamis (11/7/2019).

Surjana sudah berjualan sejak pukul 06.00 pagi tadi, puluhan gelas dan kaleng disiapkannya untuk wadah lumut dan cacing.

Untuk menghindari panasnya matahari, tenda sederhana dari terpal dibuat seadanya di lapaknya yang juga sederhana di tepi jalan itu.

Tak ada merek atau pertanda khusus yang dibuatnya, karena rata-rata pembelinya sudah paham apa yang dijualnya.

"Cuma begini saja, langganan sudah tahu, bahkan ada yang dari Pasar Minggu kesini, sudah ngerti aja," ucap dia.

Diketahui Surjana memang menjajakan lumut dan cacing setiap hari disana.

Sementara pedagang lainnya akan ikut berjualan saat sedang ramai saja.

"Kalau setiap hari hanya saya saja, kalau sabtu minggu baru banyak," katanya.

Beruntung, rekan-rekannya mengerti kondisi Surjana yang masih harus membiayai sekolah 4 anaknya, belum termasuk anak bungsunya yang masih berusia 1,5 tahun.

"Yang lain sengaja enggak jualan, karena kalau jualan ya pasti sedikit juga kan dapatnya. Jadi saya dikasih yang jualan. Mereka kan nyambi (sambilan) juga dagang ini, kalau saya enggak ada ini ya nunggu diperkerjalan ditambak, itu kan jarang-jarang," ceritanya.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved