Raih Gelar Doktoral, Noriyu Meneliti Deteksi Ide Bunuh Diri di Kalangan Pelajar

Nova Riyanti Yusuf memperoleh gelar Doktoral dari bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI).

Raih Gelar Doktoral, Noriyu Meneliti Deteksi Ide Bunuh Diri di Kalangan Pelajar
TribunJakarta.com/Dwi Putra Kesuma
Dr.dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ alias Noriyu ketika menggelar konferensi pers terkait penelitiannya tentang deteksi ide bunuh diri. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, BEJI - Nova Riyanti Yusuf memperoleh gelar Doktoral dari bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI).

Nova Riyanti Yusuf merupakan dokter spesialis kejiwaan yang juga politikus Partai Demokrat.

Usai mendapat gelar Doktornya, Noriyu sapaan akrabnya pun langsung menggelar konferensi pers terkait hasil penelitiannya yang berjudul 'Deteksi Dini Faktor Risiko Ide Bunuh Diri Remaja di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas/Sederajat di DKI Jakarta.

Noriyu menuturkan, hasil penelitiannya menemukan sekira lima persen dari 910 pelajar SMAN dan SMKN akreditasi A di DKI Jakarta memiliki ide bunuh diri.

"Dari penelitian ini, didapatkan lima persen dari 910 pelajar SMAN dan SMKN akreditasi A di Jakarta memiliki ide bunuh diri," ucap Noriyu di Ruang G105 Gedung Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Beji, Kota Depok, Kamis (11/7/2019).

Lanjut Noriyu, berdasarkan data organisasi kesehatan dunia (WHO) Global Estimates 2017, menunjukkan kematian global akibat bunuh diri yang tertinggi berada pada usia 20 tahun, terutama pada negara yang berpenghasilan rendah dan menengah dan di tahun 2016.

"WHO mencatat bahwa kematian pada remaja laki-laki usia 15-19 tahun disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kekerasan interpersonal, dan menyakiti diri sendiri, sementara perempuan disebabkan oleh kondisi maternal dan menyakiti diri sendiri," tambahnya.

Masih kata Noriyu, menurut data dari Riskedas tahun 2013 juga keinginan bunuh diri lebih sering terjadi di perkotaan dibandingkan di desa.

"Menurut Riskesdas 2013, pada sampel populasi usia 15 tahun keatas sebanyak 722.329, prevalensi keinginan bunuh diri sebesar 0,8 persen pada laki-laki, dan 0,6 persen pada perempuan. Keinginan bunuh diri lebih banyak terjadi di daerah perkotaan daripada di desa," tuturnya.

Oleh sebab itu, menurutnya, ide bunuh diri ataupun ancaman serta percobaan bunuh diri merupakan hal serius yang harus segera ditangani.

700 Pencari Suaka di Kebon Sirih Bakal Ditampung di Gedung Penampungan Sementara Kalideres

Tantang Kader PKB Antar Habib Rizieq ke Bandara, Miftah Sabri: Saya Siapkan Rp110 Juta

Untuk menangani hal tersebut, diperlukan adanya langkah preventif untuk menekan angka kejadiannya kejadiannya menurut Noriyu.

"Untuk kasus bunuh diri pada remaja, salah satu hal penting yang dapat dilakukan yaitu deteksi dini, yang bertujuan untuk menemukan faktor risiko penyebab bunuh diri pada remaja," kata Noriyu.

Noriyu pun sempat menyinggung perihal BPJS yang tidak menanggung korban-korban upaya bunuh diri.

"BPJS tidak menanggung itu, jadi bagaimana kita bisa punya datanya," pungkasnya.

Penulis: Dwi putra kesuma
Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved