Ini Penjelasan Anak Penyandang Tuna Ganda Netra Tak Mandiri Saat di Rumah

Tercatat sebanyak 55 siswa bersekolah di Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala dan tersebar dalam pelayanan dini, pendidikan dasar serta pendidikan.

Ini Penjelasan Anak Penyandang Tuna Ganda Netra Tak Mandiri Saat di Rumah
TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA
Wakil Kepala Sekolah Vera Dotulong di Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala, Jalan Inerbang, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (22/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Orang tua masih memanjakan anak ketika di rumah, menjadi faktor kendala utama penyandang tune netra ganda tak mandiri.

Hal ini diungkapkan para pengajar di Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala di Jalan Inerbang, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Yayasan yang berdiri sejak tahun 1973 ini merupakan lembaga yang melayani kebutuhan pendidikan bagi penyandang tuna ganda netra. Atau mereka yang memiliki hambatan pengelihatan seperti buta atau low vision dengan disertai hambatan lainnya seperti tuli, retardasi mental, fisik, autis dan lain sebagainya.

Tercatat sebanyak 55 siswa bersekolah di Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala dan tersebar dalam pelayanan dini, pendidikan dasar serta pendidikan lanjut.

Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala sebenarnya bertujuan mempersiapkan siswa untuk mandiri ketika berada di rumah. Namun pada kenyataan faktor orang tua yang masih memanjakan anaknya membuat para siswa sulit untuk mandiri.

VIDEO Menengok Sejumlah Kegiatan Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala untuk Tuna Netra Ganda

"Di sini kita mengajarkan kegiatan fungsional yang diselipkan pemahaman dan pelajaran. Seperti memasak telur dadar kami mengenalkan bagaimana cara memecahkan, mengocok dan memasukan bumbunya. Dari situ mereka dapat tau bagaimana rasanya, cara membuatnya seperti apa sampai pada teksturnya," jelas Wakil Kepala Sekolah, Vera Dotulong di lokasi, Senin (22/7/2019).

Bila dibutuhkan pihak yayasan akan mengadakan case conference untuk berdiskusi pada orang tua murid terkait perkembangan siswa maupun masalah pada siswa. Ketika melakukan diskusi terkada beberapa siswa justru diakui tak mandiri.

Setelah di cari tau penyebabnya, faktor orang tua yang pesimis maupun khawatir ketika anaknya melakukan sesuatulah yang membuat siswa tifak mandiri di rumah.

"Kalau di sini kan diajarin cuci piring. Pas di rumah kadang beberapa orang tua bilang enggak usah dicuci. Mungkin karena khawatir. Jadi hal seperti itulah yang jadi kendala kita mau buat anak ini mandiri," sambungnya.

Dalam case conference, pihak yayasan juga menanyakan harapan orang tua. Beberapa orang tua diberikan pemahaman terkait keadaan dan kondisi anaknya. Kemudian harapan mereka ditampung dan disalurkan.

Untuk itu, Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala menyediakan ruang musik dan usaha warung, yang dimana para siswa yang melayani pembeli.

"Harapan orang tua kita sesuaikan lagi dengan kemampuan anak. Ketika orang tua  ingin anaknya bisa menjalani usaha, kita sediakan warung kita ajari mulai dari penataan belanjaan sampai menghitung laba. Semuanya tergantung pada kemampuan si anak sendiri juga," katanya.

Meskipun sudah melakukan berbagai upaya, celah ketidak mandirian anak tetap saja ketika berada di rumah. Sebab menurut Vera faktor kemandirian juga bisa berpengaruh dari sosial ekonomi, faktor lingkungan dan kesibukan orang tua.
 

Penulis: Nur Indah Farrah Audina
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved