Idul Adha 2019
Cerita Yana Pengidap Skleroderma yang Punya Niat Kuat Berkurban Tahun Ini
Kondisi ini terjadi saat sistem imunitas tubuh menyerang jaringan ikat,sehingga kulit menjadi tebal atau keras.
Penulis: Afriyani Garnis | Editor: Wahyu Aji
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Afriyani Garnis
TRIBUNJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK - Yana (39) merupakan seorang janda yang mengalami penyakit autoimun skleloderma.
Terhitung sudah dua bulan Yana mengganggur setelah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Penyakit yang dialaminya sedikit banyaknya menyulitkan aktivitasnya dalam bekerja.
14 tahun bekerja dan sudah 10 tahun bertahan dengan penyakitnya membuat Yana lebih memilih mundur.
Dilansir dari www.alodokter.com, diketahui skleroderma adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan pengerasan dan penebalan kulit dan masalah pada organ dalam tubuh.
Kondisi ini terjadi saat sistem imunitas tubuh menyerang jaringan ikat, sehingga kulit menjadi tebal atau keras.
Selain menyerang jaringan ikat kulit, skleroderma juga dapat terjadi pada organ dalam tubuh, seperti timbulnya jaringan parut pada paru-paru atau ginjal, serta pengerasan pembuluh darah yang memicu terjadinya kerusakan jaringan dan tekanan darah tinggi.
Kelainan gen dan faktor lingkungan diduga memicu terjadinya penyakit ini.
Meski belum ditemukan obat untuk menyembuhkan penyakit ini, penderita skleroderma masih dapat hidup dengan produktif.
Penanganan dengan pengobatan dan terapi dapat mengendalikan gejala skleroderma yang timbul.
Yana pun hingga saat ini belum menemukan obat untuk menyembuhkan sakitnya.
Setiap harinya madu dan obat herbal menjadi alternatif pengobatannya.
"Saya bisa saja ke rumah sakit ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) tapi belum waktunya, obatnya juga banyak, efeknya ya lebih enak aja dibadan, tapi kalau harus melulu kesana tidak bisa, saya kalau kecapean juga tidak jisa, naik tangga engga bisa, apalagi kedinginan," kata Yana saat ditemui di kediamannya di Jalan Swasembada Barat 10, Tanjung Priok, Jakarta Utara, (31/7/2019).
Kini, Yana hanya mengandalkan pengembalian uang dari beberapa temannya yang pernah meminjam uang kepadanya.
Ia pun juga tengah menunggu pencarian uang jaminan kesehatan dari tempatnya bekerja sebelumnya.
Idul Adha menjadi saat ditunggunya, meski tak ada penghasilan lagi, Yana tetap bertekad untuk berkurban.
Ia tak ingin kesempatan untuk berkurban saat ini hilang meski ia sedang sakit dan tidak bekerja.
"Jadi ketagihan, karena sudah dua kali kurban, mau bagaimana saya akan usahakan untuk kurban. Umur kan enggak ada yang tahu. Kalau tahun ini enggak kurban kan rasanya mengganjal aja. Mama saya juga tanya apakah ada uangnya, saya bilang doakan saja," kata Yana.
Yana bercerita, awal ia memutuskan membeli kambing adalah ketika ia sedang berkegiatan di dekat penjualan hewan kurban, Minggu (28/7/2019) lalu.
Tanpa fikir panjang Wanita 39 tahun itu pun menanyakan kambing yang dijual disana.
Rasa pesimis, itu yang dirasakan Yana, ia sempat mendengar harga kambing mencapai Rp 2,7 juta dari tetangganya. Sementara uang dimilikinya tak sampai Rp 2 juta.
"Saya sempat pesimis kayaknya engga ada kambing dibawah Rp 2 juta, soalnya saya dengar didekat sini Rp 2,7 juta. Paling enggak kalaupun turun jadi Rp 2,5 juta, bagaimana ya saya sempat berfikir seperti itu," ucap dia.
Beruntung Yana bertemu Juwono (26) penjual hewan kurban yang ditemuinya di Jalan Jati VI, Tanjung Priok.
Juwono menyambut baik niat Yana untuk berkurban, karena menurutnya niat untuk kurbam itu sangatlah baik. Sehingga ia tak ingin membebani Yana karena kekurangan uang untuk membeli kambing.
"Saya tanya-tanya ke penjualnya harganya berapa, ternyata diatas Rp 2 juta, saya bilang ada tidak yang dibawah Rp 2 juta, saya ingin sekali berkurban, saya juga enggak kerja lagi sekarang," kata Yana pada Juwono.
Akhirnya, setelah Juwono mendiskusikan perihal kambing yang hendak dibeli Yana pada pamannya, diputuskan kambing yang diincar Yana seharga Rp 1,9 juta.
"Saya pulang, kemudian dihubungi sama penjualnya, akhirnya saya bawa uang cash kesana saking senangnya, enggak apa-apa kambingnya kecil, yang penting saya bisa kurban," kata dia.
"Saya senang sekali ada penjual hewan kurban yang mau bantu saya, tahun depan semoga saya dapat rejeki lebih lagi supaya kurban lagi, saya pastikan saya akan kesana lagi," ungkap Yana haru.
Sementata itu, kambing Yana hingga saat ini masih dirawat Juwono karena belum diserahkan.
Juwono juga turut merasa senang dan bangga bisa membantu Wanita 39 tahun itu.
"Saya sempat bilang, kumpulkan saja uang dulu, kalau mau kambingnya saya enggak akan jual ke siapapun, sampai dia kembali," kata Juwono.
"Setelah harganya jadi, dia malah kembali dengan membawa uang cash, katanya takut kepakai. Kambingnya masih disini masih saya rawat seperti kambing lainnya. Nanti kalau diminta untuk diantarkan akan diantarkan," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/yana-warga-swasembada.jpg)