KPAI Belum Mendapat Penjelasan dari Pemkot Tangsel Terkait Kematian Calon Paskibraka Aurel

Selepas menemui pihak Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Tangsel, Jasra mengatakan, pihak kepolisian sudah memeriksa 30 orang

KPAI Belum Mendapat Penjelasan dari Pemkot Tangsel Terkait Kematian Calon Paskibraka Aurel
TribunJakarta.com/Jaisy Rahman Tohir
Pemerhati dan Psikolog Anak, Seto Mulyadi dan Komisioner KPAI, Jasra Putra di Mapolres Tangsel, Senin (12/8/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, SERPONG - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut kasus meninggalnya Aurellia Qurratu Aini, atau Aurel, masih gelap, karena belum ada pemaparan yang jelas dari Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) ataupun Kepolisian.

"12 hari kematian Aurel, sampai sekarang kan masih gelap, tidak ada keterangan resmi baik dari Pemerintah Tangerang Selatan dalam hal ini Ibu Wali Kota maupun dari polisi. Melihat itu, katakanlah Peraturan Menpora 65 tahun 2015, tentang pengelolaan Paskibraka, untuk pihak yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan ini adalah Pemerintah Tangerang Selatan dalam hal ini adalah Wali Kota Ibu Airin," ujar Komisioner KPAI, Jasra Putra di Mapolres Tangsel, Senin (12/8/2019).

Selepas menemui pihak Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Tangsel, Jasra mengatakan, pihak kepolisian sudah memeriksa 30 orang untuk menggali fakta soal kematian Aurel.

"Sudah diminta 30 orang, apakah itu cukup, ya itu kita minta informasi dari kepolisian termssuk misalnya, apakah harus otopsi, ya tentu mudah-mudahan keluarga mau dan rela untuk keadilan korban," ujarnya.

Pihak orang tua sudah menyatakan tidak membolehkan jenazah anaknya untuk diotopsi.

Jasra mengatakan, kasus itu tetap masih bisa mendapat titik terang meskipun tanpa otopsi.

Situasi Ruang Ganti Tidak Kondusif, The Jakmania Minta Pemain dan Pelatih Persija Jakarta Tahan Diri

"Ya sebetulnya otopsi itu untuk meyakinkan penyidik bahwa penyebab kematian itu adalah hasil lab yang ditemukan oleh tim otopsi. Tapi tentu informasi-informasi lain yang sangat kuat mengarah ke situ bisa didapatkan, tentu saya yakin kepolisian sangat profesional dalam melihat kasus ini," jelasnya.

Seperti diberitakan TribunJakarta.com sebelumnya, Aurel merupakan calon Paskibraka (Capaska) dari SMA Islam Al-Azhar BSD Serpong.

Aurel meninggal pada masa pelatihan Paskibraka Tangsel.

Orang tuanya menyebut Aurel mendapat perlakuan kontak fisik semacam tamparan dan cubitan semasa pelatihan.

Aurel bahkan disebut pernah disuruh memakan jeruk beserta kulitnya saat berlatih.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved