Jakob Oetama Raih Penghargaan Achmad Bakrie 2019
Jakob Oetama meraih Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) 2019 dengan predikat bapak jurnalisme modern Indonesia.
Penulis: Muhammad Rizki Hidayat | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Muhammad Rizki Hidayat
TRIBUNJAKARTA.COM, TANAH ABANG - Jakob Oetama meraih Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) 2019 dengan predikat bapak jurnalisme modern Indonesia.
Hal itu dikatakan langsung oleh Ketua Penyelenggara PAB 2019, Ardiansyah Bakrie di XXI Ballroom Gedung Djakarta Theatre Lantai 2, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019).
"Kami memberi Penghargaan Achmad Bakrie ini kepada Pak Jakob Oetama dalam bidang jurnalisme," ucap Ardiansyah Bakrie.
Jakob Oetama, lanjutnya, memiliki kecerdikan visioner lantaran mampu membangun jurnalisme yang memungkinkan Kompas bertahan hingga saat ini.
Terlebih, kata dia, Kompas mampu menjadi bagian pilar demokrasi yang keempat di tengah iklim politik yang otoriter pada tahun 90-an.
"Kompas sebagai bagian pilar demokrasi yang keempat di tengah iklim politik yang otoriter, sekaligus kelompok usaha yang dinamis di tengah situasi ekonomi yang tak menentu," jelas Ardiansyah Bakrie.
Sebagai perwakilan yang menerima PAB 2019, Rikard Bagun, menyebut penghargaan tersebut luar biasa.
Sebabnya, kata Rikard Bagun, penghargaan tersebut didapatkan Jakob Oetama lantaran saat ini merupakan masa krisis penghargaan terhadap jurnalisme.
"Dan maknanya yang berlipat-lipat, karena penghargaan ini diterima pada masa krisis penghargaan dari bangsa kita sekarang. Sikap saling menghargai itu sangat krisis besar," tutur Rikard Bagun, di tempat dan waktu yang sama.
Bahkan, sambungnya, akhir-akhir ini media sosial di Indonesia menjadi wadah untuk melontarkan ujaran kebencian dari warganet.
"Bahkan belakangan ini, kita lihat bahwa ujaran kebencian dan fitnah itu lebih hebat dari kebajikan daripada yang kita komunikasikan," kata Rikard Bagun, sebagai Wakil Pemimpin Umum Kompas.
Dia menilai, PAB 2019 ini merupakan representasi dari pergulatan kebudayaan.
"Di sini saya lihat lembaga Bakrie Award ini adalah sebuah pergulatan kebudayaan," ucapnya.
PAB 2019, sambungnya, merupakan pencarian makna guna membikin bangsa Indonesia dapat menjadi lebih kuat dan berpikiran terbuka. Pun saling menghargai.